Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Petugas Jembatan Timbang Dwi Santoso Punya Hobi Bertanam Sistem Hidroponik, Hasilkan Cuan Besar dan Segera Kembangkan ke Destinasi Petik Buah di Kulon

Anom Bagaskoro • Jumat, 17 Mei 2024 | 14:45 WIB

 

MUDAH PERAWATAN: Dwi Santoso saat menerima kunjungan Pj Bupati Kulon Progo Ni Made Dwipanti Indrayanti di green house miliknya di Padukuhan Bugel, Bugel, Panjatan, Selasa lalu (14/5).
MUDAH PERAWATAN: Dwi Santoso saat menerima kunjungan Pj Bupati Kulon Progo Ni Made Dwipanti Indrayanti di green house miliknya di Padukuhan Bugel, Bugel, Panjatan, Selasa lalu (14/5).

 

 

RADAR JOGJA - Staf Administrasi UPPKB (Unit pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor) Kulwaru, Kulonprogo, Dwi Santoso memiliki hobi unik yang menghasilkan cuan besar. Hobi yang ia tekuni itu berkebun tanaman hidroponik.


Berbekal pengalamannya, kini dia telah membuat green house di belakang rumahnya di Padukuhan Bugel, Kalurahan Bugel, Kapanewon Panjatan. "Ya, memang berawal dari hobi saja dan tidak menyangka akan jadi sebesar ini," ucap Dwi.


Ia menjelaskan, hobi menanam buah berawal saat dirinya mencoba menanam sayuran di lahan terbuka. Ia kemudian melanjutkan dengan mencoba metode hidroponik pada tanaman sayur. Karena melihat hasil luar biasa dari metode hidroponik.


Dwi kemudian melebarkan sayapnya dan mengembangkan hidroponik pada tanaman buah. Pada awalnya tak menggunakan green house. Karena melihat potensi hasil yang besar, ia memutuskan untuk membuat green house."Pasti setiap metode tanam ada keunggulan masing-masing," ungkapnya.


Ia menjelaskan, metode hidroponik cukup cocok dengan dirinya. Metode hidroponik dinilai tak memerlukan waktu banyak untuk perawatan. Hal inilah yang menjadi dasar ia memilih metode ini.
Dwi tak ingin pekerjaannya di UPPKB Kulwaru terhambat akibat kesibukannya mengolah lahan. Selain itu, sistem hidroponik lebih unggul terhadap serangan hama. Dan dari segi biaya operasional lebih murah.


Hanya saja saat awal pembangunan memerlukan dana lebih. "Awal membangun membutuhkan Rp 200 ribu per meter persegi. Itu untuk green house beserta instalasi hidroponik," tuturnya.
Dwi menjelaskan, untuk balik modal dirinya hanya memerlukan empat kali panen. Setiap panen bisa jutaan rupiah. Menurutnya, hobinya ini cukup menghasilkan. Terlebih tak mengganggu pekerjaannya sebagai petugas jembatan timbang.


Sebagai petugas jembatan timbang ia tak pernah mendapatkan komplain dari atasannya terkait hobi hidrponiknya. Justru atasannya mendukung hobi itu, karena sama sekali tak mengganggu pekerjaan.


Bahkan sosok Dwi menjadi teladan karena mampu membagi waktu antara bertani dan bekerja formal. "Keinginannya agar bisa dikembangkan untuk agrowisata," kata Dwi.


Keinginan Dwi untuk mengembangkan hobinya ke arah agrowisata ini disambut baik oleh Pj Bupati Kulon Progo Ni Made Dwipanti Indrayanti saat berkunjung di green house-nya, Selasa (14/5) lalu.
"Saya kira ini suatu inovasi. Dengan lahan terbatas bisa menghasilkan komoditas yang banyak," ucap Ni Made saat berkunjung pada agenda Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat itu.


Menurutnya, kualitas buah yang dihasilkan melalui metode hidroponik memiliki hasil berkualitas. Tentunya dapat bersaing dengan komoditas buah lainnya.


Tak hanya itu, dimungkinkan dapat dikembangkan menjadi destinasi petik buah. Di mana masyarakat sekitar dapat datang untuk berwisata maupun belajar mengenai hidroponik. (laz)

Editor : Satria Pradika
#sistem hidroponik #UPPKB #hobi #Destinasi Petik Buah #Petugas Jembatan Timbang #Hidroponik #Kulonprogo #Dwi Santoso