KULON PROGO – Digadang-gadang sebagai program mengangkat sektor pariwisata di Kulon Progo, Bedah Menoreh tak kunjung terealisasi.
Program yang telah dimulai sejak era kepemimpinan Hasto Wardoyo ini, nyatanya malah menimbulkan pertanyaan.
Hal ini dikarenakan, tak adanya tindak lanjut realisasi secara menyeluruh.
“Kami menunggu kebijakan dari DIY, walaupun kewenangannya disesuaikan dengan status jalan,” ucap Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga DPUPKP Kulon Progo Nurcahyo Budi Wibowo, Kamis (9/5/2024).
Nurcahyo tak menampik perihal progres program yang tak ada kabar.
Wewenang keberlanjutan program ini, dimiliki Pemprov DIY.
Walaupun secara teknis Pemkab yang akan menggarap jalan, sesuai kewenangan masing-masing.
Hal ini dikarenakan, Program Bedah Menoreh memanfaatkan beberapa jalan dengan status Jalan Kabupaten maupun Jalan Provinsi.
Bedah Menoreh, merupakan program pembangunan jalur jalan yang menghubungkan Yogyakarta International Airport (YIA) menuju Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur.
Yang mana diperkirakan akan menelan biaya Rp 1,3 triliun, dengan panjang jalan 53 km.
Tujuan utama program ini tak hanya menyangkut akses menuju Borobudur.
Namun juga menggeliatkan sektor wisata di Perbukitan Menoreh, yang terkenal dengan potensinya.
“Triger utamanya adalah YIA dan KSPN Borobudur, yang menjadi alasan pembuatan Program Bedah Menoreh,” ucap Nurcahyo.
Program yang direncanakan sejak tahun 2018-2019 untuk penetapan Detail Enginering Design (DED), tak kunjung rampung.
Padahal tahun 2020 program ini dimulai, dan target penyelesaian pada 2025.
Menurut Nurcahyo, program ini terkendala masalah anggaran.
Pada 2020, pelaksanaan program ini sempat terhambat adanya wabah Covid-19.
Anggaran yang semestinya digunakan untuk melanjutkan program, terpaksa dialihkan untuk penanganan covid.
Pengalihan anggaran ini terus belanjut hingga selesainya wabah.
Setelah wabah selesai, Pemprov DIY tak kunjung menggarap kembali program tersebut.
Nurcahyo menjelaskan, Pemprov DIY sebenarnya memiliki program prioritas.
Untuk saat ini Bedah Menoreh belum bisa terealisasi, dikarenakan pemerintah sedang fokus pada Pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS).
Hal ini terjadi karena keterbatasan anggaran yang ada, dan tidak memungkinkan untuk menjalankan 2 program sekaligus.
“Pemprov dan Pemkab punya konsen untuk memperbaiki jalan Bedah Menoreh,” ucap Nurcahyo.
Nurcahyo menjelaskan, Pemprov dan Pemkab sebenarnya telah berupaya melakukan perbaikan di beberapa ruas jalan yang dulunya direncanakan masuk program Bedah Menoreh.
Namun perbaikan tak bisa menyeluruh diseluruh jalan Bedah Menoreh.
Hal ini dilakukan untuk mengakomodir keluhan warga mengenai rusaknya jalan, yang rencananya akan dibangun baru.
Sebelumnya, Carik Kalurahan Hargomulyo Anton Yunianto merasakan dampak tak terealisasinya Program Bedah Menoreh.
Ruas Jalan Kokap-Hargomulyo yang masuk ke dalam program ini, tak kunjung ditindak lanjuti.
Padahal sebelumnya jalan ini rencananya akan diperlebar.
Bahkan sudah terdapat patok pelebaran, yang membuat masyarakat bertanya-tanya tentang keberlanjutan program.
"Tahun 2020 sempat ada survey, pengukuran, dan pematokan. Namun sampai saat ini belum dibangun," ucap Anton.
Menurutnya, masyarakat banyak berharap agar program ini segera berlanjut. Karena melihat jalan yang sungguh memprihatinkan.
Kondisi jalan saat ini, berlubang dan tak ada perbaikan yang dilakukan oleh pemerintah.
Padahal jalan tersebut cukup vital bagi masyarakat sekitar. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva