KULON PROGO - Pukul 07.00 WIB siswa sudah berkumpul tepat di depan halaman Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Kulon Progo, Kamis (2/5).
Seperti sekolah lainnya, dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), sekolah ini mengadakan upacara.
Tak seperti sekolah biasa, upacara di SLB tergolong istimewa.
Biasanya petugas upacara merupakan siswa, namun di SLB yang bertugas adalah guru.
Siswa SLB dengan segala keistimewaannya, menjadi peserta tampak khidmat dalam mengikuti upacara.
"Bagi kami momen Hardiknas, bukan sekedar euforia namun meningkatkan pendidikan bagi anak-anak," ucap Wakil Kepala SLBN 1 Kulon Progo Bidang Humas Indah Sulistyawati, saat ditemui Radar Jogja, Kamis (2/5/2024).
Indah menjelaskan, momen ini bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kepedulian terhadap dunia pendidikan, khususnya bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).
Sekaligus memotivasi masyarakat untuk memberikan dorongan pada bidang pendidikan.
Selama ini, banyak ABK yang terkendala dalam mencapai pendidikan.
Penyebabnya bervariasi, antara lain, faktor ekonomi, kesempatan bersekolah, keluangan waktu orangtua, dan jarak sekolah yang relatif jauh.
Banyak siswa ABK yang tak bisa bersekolah karena orang tua tak memiliki finansial kuat. Walaupun di SLB yang berlabel negeri tidak ada pungutan biaya.
Selain itu, karena siswa memiliki keistimewaan orangtua juga perlu meluangkan waktu, untuk sek3dar mengatar ataupun menunggu ABK.
"Tidak ada kendala sebenarnya, namun terkadang ada siswa yang tak datang sekolah," ucap Indah.
Indah menjelaskan, siswa yang diampu terkadang tidak datang ke sekolah karena kesibukan orangtuanya.
Sehingga ketika siswa kembali masuk sekolah, materi sebelumnya perlu diulang. Yang membuat penyerapan ABK kurang efektif.
Kendati terdapat banyak faktor yang membuat pendidik memiliki tanggungjawab berat. Indah dan guru lainnya tetap mengusahakan pendidikan yang layak bagi ABK.
Menurutnya, guru SLB memiliki kebanggan apabila dapat membantu siswa ABK untuk bisa bersosialisasi.
Terkadang ABK tak mampu menjalani kehidupan bersosialisasi seperti orang lain.
Sehingga peran pendidik dalam membantu mereka cukup krusial.
Peran pendidik tak hanya menjejalkan materi.
Namun mempersiapkan ABK agara dapat bersosialisasi dengan masyarakat luas, serta mampu hidup mandiri.
"Ada rasa bangga ketika melihat anak didik bisa hidup mandiri," ucapnya.
Senada dengan Indah, Wakil Kepala SLBN 1 Kulon Progo Bidang Kurikulum Supiyah membenarkan perihal kemandirian sangat diperlukan peserta didiknya.
Menurutnya menjadi pendidik di SLB adalah tugas yang dilandasi sebagai laku ibadah.
Di SLBN 1 Kulon Progo mengadakan KBM seperti halnya sekolah lain terdapat beberapa jurusan dari jenjang SD hingga SMA. Sedangkan jumlah siswanya terdapat 218 siswa.
"Bantuan dari pemerintah sudah banyak, baik untuk sarpras, beasiswa, muapun operasional sekolah," ucap Supiyah.
Supiyah menjelaskan, dengan bantuan yang diterima SLB dari pemerintah, dapat meningkatkan kualitas pendidikan.
Ia juga berharap bantuan akan terus digelontorkan mengingat pentingnya peningkatan kualitas pendidikan. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva