Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Punya Previllage, YIA Satu-satunya Bandara Internasional Di Wilayah DIY dan Jateng, Ini Target Yang Dipasang Pelaku Wisata

Anom Bagaskoro • Kamis, 2 Mei 2024 | 14:40 WIB
Bandara Yogyakarta International Airport (YIA).
Bandara Yogyakarta International Airport (YIA).


RADAR JOGJA – Yogyakarta International Airport (YIA) kini menjadi satu-satunya bandara internasional di wilayah DIY dan Jawa Tengah. Jadi peluang sekaligus tantangan bagi DIY.


Perubahan status Bandara Ahmad Yani Semarang, Bandara Adi Soemarmo Solo dan Bandara Adi Sucipto Jogja, yang tak lagi jadi bandara internasional diputuskan Kementerian Perhubungan melalui Keputusan Menteri No 31 Tahun 2024 tentang Penetapan Bandar Udara Internasional. Isinya mencabut status 17 bandara internasional dari semula 34 bandara internasional.


"Bandara YIA satu-satunya bandara internasional di kawasan Jateng-DIY," ucap Ketua DPRD Kulon Progo Akhid Nuryati, Selasa (30/4).


Akhid menjelaskan, berubahnya status bandara merupakan peluang besar bagi Kulon Progo. Peluang tersebut berkaitan dengan perekonomian masyarakat, yang mana akan terus meningkat. Khususnya terdorong dengan adanya jumlah kunjungan pengguna moda transportasi udara di YIA.

 

Photo
Photo


Sehingga dibutuhkan komitmen dan langkah yang kuat untuk memanfaatkan momentum ini. Pemerintah perlu membuat program yang tepat agar arah tujuan pemanfaatan YIA dapat optimal. Selain itu, jaring komunikasi dengan YIA perlu diperkuat, hal ini berkaitan dengan kolaborasi antar pihak terkait.


Ditemui pada kesempatan yang berbeda, Pj Bupati Kulon Progo Ni Made Dwipanti Indrayanti membenarkan keuntungan YIA sebagai bandara internasional, setelah bergantinya status Bandara Ahmad Yani, Adi Sumarmo dan Adi Sucipto.

 

Agar momentum dapat dimanfaatkan, pihaknya telah melakukan Penandatanganan MoU antara Pemkab dengan Angkasa Pura 1, tentang peningkatan daya saing dan potensi daerah, Senin (29/4). "Peluang sekaligus tantangan besar bagi Kulon Progo untuk memanfaatkan peluang," ucap Ni Made.


Menurutnya, YIA sekarang memiliki previllage setelah perubahan status bandara sekitar. Harus ditanggapi dengan effort besar, dalam meningkatkan segala aspek dalam mendukung kebermanfaatan YIA.


Ni Made, mencontohkan perihal pembangunan perekonomian. YIA dapat menaikkan perkonomian wilayah. Dengan adanya moda transportasi untuk ekspedisi, dapat dimanfaatkan untuk ekspor produk Kulon Progo.

 


General Manager YIA Ruly Artha membenarkan peluang besar setelah penurunan status bandara Semarang dan Solo. Sehingga peluang tersebut perlu disambut baik. "Peluang yang harus disambut baik, untuk semangat mengembangkan traffic bandara," tuturnya.


Dengan peluang baru, diharapakan YIA dapat menjadi penopang sektor pariwisata wilayah DIY khususnya Kulon Progo. Tapi perlu kolaborasi dengan pemkab untuk membuat iklim pariwisata dalam menyambut turis yang berkunjung melalui YIA.


Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY Bobby Ardyanto menyampaikan kondisi itu menguntungkan bagi pariwisata DIY. Menurutnya regulasi itu mendorong penerbangan internasional masuk ke DIY yang selama ini di Semarang atau Solo akan bergeser. Selain itu, bukan tidak mungkin DIY akan menjadi hub. “Ketika terbang banyak yang pagi pasti akan banyak yang stay di Jogja dan itu menjadi opportunity,” katanya kepada Radar Jogja, Rabu (1/5/2024).


Kalau ke depannya akan banyak penambahan penerbangan langsung dari sejumlah negara ke Bandara YIA akan sangat berdampak positif bagi pariwisata DIY. Oleh karena itu, adanya regulasi ini sangat didukung oleh GIPI DIY.


Sementara ini, penerbangan internasional di Bandara YIA baru terbatas dari dua negara yakni Singapura dan Malaysia. Menurut Bobby, dengan satu-satunya bandara internasional di Jateng-DIY yang melayani penerbangan internasional menjadi daya tawar agar dapat ada penambahan penerbangan internasional tidak hanya dari Singapura dan Malaysia saja. Dikatakannya penerbangan internasional di Bandara YIA baru terpenuhi 35 persen sehingga masih sangat mumpuni menambah penerbangan dari sejumlah negara.


Namun, kata Bobby itu harus diiringi dengan penataan pariwisata DIY yang mumpuni lagi kedepannya. Secara akses, pasti akan terdongkrak kedatangan wisman tetapi yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mampukah pariwisata DIY mampukah untuk menahan wisman lebih lama di DIY. Menurutnya, itu semua tergantung produk dan layanan pariwisata di DIY.


Frekuensi kunjungan Wisman di DIY biasanya akan memuncak di Agustus dan akan dimulai sejak Mei ini. Bobby meminta, kalau tidak bisa menambah penerbangan internasional di Bandara YIA paling tidak penambahan dari dalam negeri seperti dari Jakarta, Medan, dan Bali. Itu lantaran daerah-daerah tersebut menjadi hub bagi sejumlah wisman yang datang ke Indonesia.


Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono juga mengatakan hal serupa bahwa harus dapat memanfaatkan momentum tersebut. Momentum tersebut harus dapat diakomodir oleh stakeholder pariwisata baik dari swasta maupun pihak pemerintah.

Menurutnya, pemanfaatan momentum itu adalah dengan melakukan promosi wisata di luar negeri misalnya di Malaysia Matta Fair.“Ini peluang, kalau ini hanya diam tidak akan bisa berkembang dan berdampak,” tegasnya.


Dia pun meyakini penerbangan antara Bali – Jogja harus diperbanyak karena selama ini masih terbatas. Selain itu kalau bisa ada penambahan penerbangan dari Australia misalnya. (gas/rul/pra)

Editor : Satria Pradika
#GIPI #Previllage #kementerian perhubungan #Bandara Adi Soemarmo Solo #Bandara Adi Sucipto Jogja #bandara internasional #YIA #Bandara YIA #wisman #Yogyakarta International Airport #bandara ahmad yani semarang #Bandar udara internasional #jawa tengah