RADAR JOGJA - Di tengah gempuran produk bawang merah asal luar daerah atau mancanegara, Randi Sutrisno, 71, bertahan dengan memproduksi bawang lokal. Ia membudidaya bawang merah lokal yang dinamai bawang merah Siem.
Bawang merah yang ia tanam merupakan bawang warisan leluhur sejak zaman dulu. "Saya keturunan ke-2 dari silsilah keluarga yang masih menanam bawang merah Siem," ucap Randi saat ditemui Radar Jogja di kediamannya (2/4).
Randi menjelaskan, bawang Siem sudah dikenal masyarakat Padukuhan Karangtengah, Kalurahan Gotakan, Kapanewon Panjatan. Namun semenjak 70 tahun lalu, bawang Siem mulai ditinggalkan masyarakat. Keadaan ini terjadi karena masyarakat mulai berpindah menggunakan bibit bawang merah lain.
Munculnya bibit bawang merah dari luar daerah memicu pergeseran tanam masyarakat. Ditambah adanya bibit bawang merah Tajuk yang memiliki keunggulan dimensi umbi, membuat petani bergeser menanam bawang Tajuk.
Randi mengakui, bawang Tajuk memiliki keunggulan hasil produksi lebih banyak dua kali lipat dibanding bawang Siem. "Hasil panennya lebih besar bawang merah Tajuk,” ucap Randi.
Kendati bawang Siem kalah dibanding jenis bawang lainnya, Ia menuturkan bawang Siem memiliki karakteristik yang berbeda. Ciri khas utamanya tingkat kepedasan yang dimiliki bawang ini. Selain itu bawang Siem cenderung lebih tahan hama dibanding jenis bawang lainnya.
Secara penanaman bawang Siem hampir sama dengan bawang lainnya. Sehingga terbilang mudah dalam perawatannya. Keunggulan bawang Siem juga terletak pada pola tanam yang dapat ditanam dengan sistem tumpang sari dengan konsep tanah surjan. "Dengan keunggulan itu, sayang sekali apabila tak dilestarikan,” ucapnya.
Ia menjelaskan, dengan adanya keunggulan yang terletak di bawang Siem, masyarakat kembali menanam bawang Siem. Bawang Siem tak hanya memiliki keunggulan dari karakteristik, namun juga memiliki nilai historis karena berasal dari wilayah kelahirannya, Padukuhan Gotakan.
Selain menanam bawang Siem di lahan miliknya, Randi juga mengajak tetangganya untuk kembali mananam bawang itu. Sudah sekitar lima tahun ia mulai membuat kelompok tani yang fokus dalam menanam bawang Siem. Hasilnya sekitar 20 orang dalam kelompok tani secara rutin menanam bawang Siem.
Upaya melestarikan warisan bawang ini berlanjut dengan peningkatan kualitas bawang Siem. Dirinya mencoba berbagai mekanisme budi daya agar kualitas bawang Siem semakin bersaing.
Terbukti bawang Siem yang dulu terkenal sebagai bawang yang memiliki umbi kecil, berangsur berubah menjadi sedikit agak besar tanpa mengubah cita rasanya. "Utamanya kualitas bawang, supaya masyarakat kembali menanam bawang ini,” ucapnya.
Perjuangan Randi dalam melestarikan bawang merah Siem sebagai warisan leluhur berbuah manis. Bawang Siem dinobatkan sebagai bawang lokal yang diakui oleh Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN). BRIN sempat melakukan penelitian terkait bawang Siem dan menghasilkan bawang Siem menjadi produk pertanian lokal asli Kulon Progo.
Terpisah, Kepala Bidang Sarana dan Pengembangan Usaha Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan DPP Kulon Progo Wazan Muzakir membenarkan bawang Siem merupakan varietas lokal asli Kulon Progo. Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) selama ini telah mengajukan bawang Siem sebagai varietas asli Kulon Progo.
"Bawang Siem selama ini dilestarikan oleh warga sekitar dan sekarang sudah ada sertifikatnya,” ucap Wazan. Wazan menjelaskan, adanya sertifikat dapat mendukung pengembangan bawang Siem untuk ditanam secara massal dan luas oleh masyarakat. (laz)
Editor : Satria Pradika