Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Desa Gotakan Kulon Progo Berdaya Melalui Industri Rumahan Bawang Merah

Anom Bagaskoro • Sabtu, 23 Maret 2024 | 03:45 WIB
AKTIF: Proses pembuatan bawang merah goreng di industri rumahan milik Randi. (Anom Bagaskoro/Radar Jogja
AKTIF: Proses pembuatan bawang merah goreng di industri rumahan milik Randi. (Anom Bagaskoro/Radar Jogja

KULON PROGO - Bumi Binangun selalu dikenal sebagai wilayah penghasil umbi lapis allium atau akrab disebut bawang merah. Daerah Kalurahan Srikayangan seringkali terdengar akan kemasyhurannya sebagai penghasil bawang.

Namun, berbeda dengan Kalurahan Gotakan, Kapanewon Panjatan, Kabupaten Kulon Progo. Tak hanya sebagai penghasil bawang merah, juga penghasil produk olahan umbi. 

"Berawal dari tradisi menanam bawang lokal di masyarakat kami," ucap Lurah Gotakan Redy Hartanto, saat ditemui Radar Jogja di ruang kerjanya, Jumat (22/3).

Redy menjelaskan, menanam bawang merah sudah menjadi budaya di masyarakatnya.

Ia menjelaskan, sistem tanah surjan dikenal sejak dahulu kala untuk menanam bawang merah.

Tanah surjan merupakan sistem penanaman dengan meninggikan bagian tanah untuk ditanami tanaman bawang ataupun yang lain.

Sedangkan bagian yang elevasinya rendah ditanami padi yang membutuhkan air terendam.

Bahkan, karena sudah cukup lama budaya tanam bawang, daerah ini memiliki bawang varietas lokal yang telah diteliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). 

Itu memiliki keunggulan dibanding baeang lainnya. Keunggulan berada pada rasa bawang yang pedas.

Menurut Redy, sekitar 300 warganya bergantung hidup pada pertanian bawang merah.

Kemudian, karena beberapa faktor seperti menjamurnya bawang merah impor di pasaran, membuat petani tak mampu bersaing dengan produk lokal bawangnya.

Akhirnya, sebagian besar petani di wilayah tersebut memutuskan untuk mengolah panenannya.

"Diolah untuk meningkatkan nilai jualnya, sehingga panen tidak sia-sia," ucap Redy.

Redy mengutarakan, upaya warga dalam mengolah bawang merah berbuah manis.

Bawang merah yang hanya digunakan sebagai bumbu kini berubah menjadi barang siap pakai untuk masakan ataupun camilan.

Masyarakat mengolah bawang merah menjadi bawang merah goreng.

Terdengar cukup sepele bila dilihat dari produk olahannya, yang mayoritas bisa dibuat sendiri di rumah. 

Namun, produk olahan ini mampu merajai pasar lokal dan bahkan daerah di luar DIY.

Terhitung sejak saat itu, bermunculan industri rumahan yang mengolah bawang merah.

"Kalau di DIY itu sering kali dipasarkan, dan sekarang merambah di Jawa Timur dan Jawa Tengah," ucap Redy.

Redy menjelaskan, pemasaran produk bawang merah goreng perlu didorong oleh pihak desa. Sehingga sejak 3 tahun terakhir pihaknya gencar mempromosikan dan memasarkan produk olahan.

Penggunaan wadah Desa Prima juga terus digencarkan untuk merambah pasar hingga seluruh Indonesia.

Desa Prima juga menutun industri rumahan untuk berinovasi dalam pengembangan produk olahan pertanian.

Kini tengah mengkaji produk olahan berupa sambal dalam bentuk botol yang telah dipasarkan di wilayah Jawa Timur.

Menurutnya kini industri rumahan pengelohan bawang merah semakin banyak berkembang. Terdapat sekitar 40 pengusaha yang mengolah bawang merah menjadi produk olahan.

Ia berharap dengan bawang merah bisa mengangkat perekonomian masyarakat sekitar.

Sementara itu, Randi Sutrisno, petani bawang yang sudah menekuni pekerjaan ini sejak masih anak-anak, menjelaskan dirinya cukup mengenal budaya tani bawang merah di Gotakan.

Menurutnya, menanam bawang merah sudah mengakar di daerahnya. Sehingga sangat sulit ditinggalkan.

"Saya sudah berusia 70 tahun, dulu sejak kecil sudah diajari orangtua untuk bertanam bawang," ucap Randi.

Randi menjelaskan, orang tuanya mewariskan pengetahuan bercocok tanam bawang merah ke dirinya.

Ia pun begitu. Anaknya kini juga meneruskan cocok tanam bawang merah.

Bahkan, Randi dan anaknya mulai mengembangkan bisnis olahan bawang merah sejak 2005. Dan menjadi besar hingga mulai dipasarkan sejak tahun 2015.

Menurutnya usaha rumahan ini menghasilkan banyak pundi-pundi uang. Bahkan industri rumahan mampu menyerap tenaga kerja yang cukup banyak.

Ada sekitar 40 orang yang bekerja di industri milik Randi yang bernama Bawang Goreng Makmur.

Laksmini, salah seorang pekerja, menjelaskan, dirinya sudah dari awal membantu produksi bawang goreng milik Randi.

Laksmi menjelaskan, ada beberapa tahapan sebelum bawang di masukkan ke penggorengan.

Tahap pertama pemilahan dan pengupasan. Tahap kedua, pengirisan dan pencucian sekaligus penirisan.

Dilanjutkan dengan pencamuran tepung maizena, kemudian digoreng dalam minyak panas. Setelah itu bawang goreng ditiriskan dan didinginkan.

Kemudian, dimasukkan kedalam mesin pengering untuk mengangkat minyak.

Setelah itu, bawang goreng dimasukkan wadah dan diberi label, serta siap dipasarkan.

"Untuk 1 kilogram bawang goreng jadi, membutuhkan 4 kg bawang mentah," ucap Laksmini.

Laksmini menjelaskan, produknya akan dipasarkan ke beberapa daerah.

Harga menyesuaikan pada harga bang merah mentah.

Namun, apabila dirata-rata, harga per kilo bawang goreng dibandrol dengan harga Rp 120 ribu.

Ia mengaku selama bekerja sebagai lengolah bawang, dirinya mampum mencukupi kebutuhan keluarganya.

Terlebih bagi sebagian pekerja yang mayoritas merulakan ibu rumah tangga yang mencari kesibukan yang menghasilkan. (cr7)

 

Editor : Amin Surachmad
#Kulon Progo #produk olahan #bawang merah