Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Terobang Ambing di Laut Karena Mesin Kapal Mati, Begini Nasib Kartani Nelayan Asal Banten Berhasil ke Daratan. Dua Temannya Masih Dalam Pencarian..

Anom Bagaskoro • Kamis, 14 Maret 2024 | 22:59 WIB
Kartani saat ditemui usai kondisinya pulih di Kantor Satlinmas Rescue Glagah dan Kapal mereka yang karam di pesisir Pantai Kulonprogo.
Kartani saat ditemui usai kondisinya pulih di Kantor Satlinmas Rescue Glagah dan Kapal mereka yang karam di pesisir Pantai Kulonprogo.

KULON PROGO - Nasib nahas menimpa 4 nelayan asal Banten.

Mereka berencana menangkap ikan di perairan Banten. Namun, rencana mereka tak berjalan mulus.

Kapal yang mereka tumpangi mengalami mati mesin akibatnya kehabisan bahan bakar.

Mereka kemudian terombang-ambing hingga sampai di wilayah selatan Kulon Progo.

"Sekitar pukul 19.38 WIB Rabu malam, warga menemukan adanya 2 nelayan yang terdampar di pesisir Karangwuni," ucap Kapolsek Temon Kompol Tjatoer Atmoko, saat ditemui di TKP, Kamis (14/3/2024).

Menurut Tjatoer, setelah menerima laporan warga, pihak Satlinmas Rescue Glagah langsung ke titik penemuan nelayan terdampar.

Saat berada di lokasi kedua korban dalam kondisi lemas dan beberapa tubuhnya mengalami lecet.

Setelah dirasa memungkinkan, kedua korban langsung dirujuk ke RSU Rizki Amalia Temon.

Dan setelah pulih esok harinya kedua korban di pindahkan ke Kantor Satlinmas Rescue Glagah.

Keempat nelayan tersebut bernama, Kartani (ABK selamat), Rasita (ABK Selamat), Anggit (ABK masih pencarian), dan Karbak (Tekong masih pencarian) yang berasal dari Desa Wanasalam, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak.

Tjatoer menjelaskan kronologi para nelayan itu mengalami mati mesin hingga terdampar di Karangwuni. 

Awalnya, mereka berempat menaiki kapal Mugi Jaya dengan tujuan untuk mencari ikan di wilayah perairan Banten.

Kapal yang mereka tumpangi tergolong kapal ukuran sedang dengan ukuran panjang 13 meter dan lebar 3 meter.

Mereka berangkat pada hari Kamis (7/3/2024), sekitar pukul 14.00 WIB dari pelabuhan pelelangan ikan di wilayah Selatan Banten.

Sesampainya di lokasi penangkapan, mereka menebar jaring untuk mendapat ikan tangkapan.

Saat menebar jaring, terjadi angin dan ombak besar, yang membuat jaring putus dan rusak.

Karena tak ingin rugi, Karbak sebagai tekong mengarahkan kapal untuk mencari jaring yang rusak dan tertinggal.

Namun, setelah 2 jam mengelilingi lokasi tangkap, mereka tak menemui jaring tersebut.

Tanpa mereka sadari kapal mengalami mati mesin, akibat kehabisan bahan bakar.

Karena berada di tengah lautan, 4 nelayan ini hanya bisa pasrah terombang-ambing.

Setelah 6 hari terombang-ambing tanpa arah tujuan, mereka mendapatkan harapan baru.

Para nelayan tersebut menemukan adanya daratan.

Kondisi kapal Mugi Jaya yang kandas di Pantai Glagah pagi tadi.
Kondisi kapal Mugi Jaya yang kandas di Pantai Glagah pagi tadi.

Lalu mereka bergegas menurunkan jangkar dan meloncat berenang menuju pesisir dengan rakit kecil dan jerigen.

Namun karena ombak sedang tinggi, lagi-lagi keempat nelayan itu terbawa arus.

Kartani dan Rasita terbawa arus hingga menabrak pemecah ombak dan berhasil menyelamatkan diri ke pesisir.

Sedangkan Anggit dan Karbak terbawa arus, dan saat ini masih dalam pencarian.

Kapal yang mereka tumpangi sempat terbawa arus dan kandas di Pantai Glagah.

Senada disampaikan Kompol Tjatoer, Kartani, salah seorang nelayan yang selamat menjelaskan, kejadian nahas itu sama sekali tak terbayangkan.

Mereka berencana menangkap ikan di sekitar perairan Banten.

"Wilayah tangkap ikan hanya membutuhkan waktu 2 jam perjalanan, itu sangat dekat dari rumah kami," ucap Kartani.

Karena kehabisan bensin akibat mencari jaring yang putus, kapal yang mereka kendarai terombang ambing selama 6 hari.

Selama 6 hari mereka hanya makan ikan hasil tangkapan di hari pertama.

Hari selanjutnya mereka terpaksa menahan lapar.

Mereka juga mengalami dehidrasi akibat kehabisan air bersih.

"Hujan cuma sekali, itu kami kumpulkan dengan plastik mantol, dapat 1 cangkir air bersih untuk minum 4 orang," ucap Kartani.

Menurut Kartani, ketika mereka melihat adanya daratan mereka tanpa pikir panjang ingin menepi ke pesisir.

Namun, karena ombak tengah tinggi membuat kapal tak bisa menepi.

Karena khawatir kembali ke tengah lautan, Kartani dan kawannya menurunkan jangkar diatas perairan dan berenang menuju pesisir.

"Kami berenang namun karena ombaknya mengarah ke luar lautan membuat kami kesulitan untuk sampai ke daratan," ucap Kartani.

Kartani menceritakan, ia pernah mengalami mati mesin di tengah lautan namun berhasil selamat setelah dibantu kapal nelayan lain.

Ia sendiri sudah menekuni profesi nelayan sejak tahun 2017. Kartani bahkan sering berlayar hingga perbatasan Australia.

Sementara itu, proses pencarian 2 nelayan lainnya terus digencarkan.

Menurut Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa wilayah V Kulon Progo Aris Widyatmoko, pihaknya menerjunkan 43 personil yang tersebar di pesisir pantai Kulon Progo.

"Ada juga dari tim SAR Gabungan menyiagakan 50 personil," ucap Aris.

Aris menjelaskan, pihaknya telah melakukan penyisiran sejak malam hari hingga pagi hari.

SAR Gabunga menyisir wilayah muara Sungai Progo hingga Pantai Glagah.

Namun usahanya belum terlihat, bahkan tanda-tanda akan keberadaan korban juga tak kunjung terlihat.

Upaya pencarian korban dijadwalkan selama 7 hari, dengan mengoptimalkan pencarian jalur darat.

Aris menjelaskan, pencarian mengalami kendala akibat cuaca buruk.

Terlebih ombak tinggi sekitar 5 meter, membuat pihaknya tak bisa melakukan pencarian ke tengah lautan. 

 

 Kondisi kapal Mugi Jaya yang kandas di Pantai Glagah pagi tadi.
Kondisi kapal Mugi Jaya yang kandas di Pantai Glagah pagi tadi.
Editor : Meitika Candra Lantiva
#Kapal Mugi Jaya #Kulon Progo #Mati Mesin #terdampar #pesisir pantai #empat nelayan banten terobang ambing di lautan