Mereka mengadakan kegiatan membangunkan orang sahur, dengan tetap mengupayakan pelestarian tradisi.
Pemuda Bendungan Lor menggunakan musik Tek-Tokan dalam membangunkan orang untuk sahur.
"Sudah berjalan sejak lama, namun kembali digiatkan sejak tahun 2012," ucap Muhammad Arfan, saat ditemui di titik kumpul sahur, Selasa (12/3).
Kegiatan membangunkan sahur ini sering disebut tradisi Tek-Tokan. Tek-Tokan dilaksanakan mulai pukul 01.30 WIB hingga 03.30.
Sebanyak 15 pemuda melakukan kegiatan ini. Mereka berjalan kaki melewati gang-gang di Padukuhan Bendungan Lor, dengan jarak tempuh 2 km.
Tradisi ini dinamai tek-tokan karena suara musik pengiring berbunyi tek-tok. Suara tersebut berasal dari kentongan yang dipukul menggunakan kayu.
Tak bisa sembarang orang yang memukul, diperlukan keterampilan agar suaranya harmoni dan sesuai tempo.
"Memukulnya tidak sembarangan, setiap area yang dipukul memiliki perbedaan suara," ucap Arfan.
Arfan mencontohkan, apabila memukul kentongan dibagian dekat lubang suaranya akan terdengar keras dan nyaring.
Sementara, bila dipukul dibagian samping, suara yang muncul cukup pelan dan tidak terlalu keras. Saat memulai memainkan musik, salah satu pemain kentongan akan memberikan aba-aba, dan akan diikuti pemain lainnya.
Tak hanya memukul kentongan, rombongan pemuda ini juga besholawat. Sholawat dilantunkan sepanjang jalur rombongan, dan disisipkan nyanyian untuk mengajak orang agar bangun serta sahur.
Jumlah kentongan yang digunakan dalam tradisi tek-tokan, terdapat 5 buah. Yang menggambarkan rukun Islam dengan 5 rukunnya.
Syahadat, Salat, Puasa, Zakat, dan Haji. Kentongan juga disiapkan menggunakan akar pohon nangka karena memiliki suara yang nyaring dan awet.
"5 kentongan ini usianya sudah lebih dari 30 tahun, sehingga punya nilai sejarah," ucap Arfan.
Arfan menjelaskan, selama membangungkan sahur ia beberapa kali berhenti di pertigaan. Hal itu, ia lakukan agar warga sekitar bangun mendengar suara kentongan.
Menurutnya suara kentongan cukup efektif dalam membangunkan orang.
Menurutnya, keefektifan suara kentongan sudah terbukti sejak zaman dahulu. Biasanya kentongan digunakan saat ronda malam, dan memberikan isyarat mengenai suatu kejadian.
Berdasarkan pengalaman Arfan, suara kentongan kadangkala lebih mudah di dengar oleh masyarakat dibanding suara pengeras suara di masjid.
"Sangat efektif, kentongan merupakan alat komunikasi sejak zaman dahulu, sehingga efektifitas tidak dapat diragukan," tutur Arfan.
Arfan menjelaskan, sejak 2012 dirinya selalu mengikuti kegiatan membangunkan sahur dengan tek-tokan.
Menurutnya belum pernah ada komplain dari masyarakat yang merasa terganggu akibat musik yang ditimbulkan. Bahkan warga mendukung adanya kegiatan tersebut.
Sementara itu, Subarman salah satu warga yang rumahnya dilewati rombongan tek-tokan. Mengungkapkan dirinya merasa terbantu dengan kegiatan yang dilakukan oleh pemuda.
Ia sendiri juga mengapresiasi para pemuda yang ingin melestarikan tradisi tek-tokan.
"Biasanya rombongan melewati area ini sekitar pukul 03.00 WIB," ucap Subarman.
Subarman menjelaskan, warga sekitar terbiasa dibangunkan sahur dengan suara tek-tokan. Sehingga apabila rombongan tek-tokan tidak membangunkan, maka warga akan terancam tidak melakukan sahur.
Editor : Bahana.