Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Supaya Tahu saat Terjadi Tsunami, Tiap Tanggal 26 Simulasikan Tutup Palang Pintu Underpass YIA

Anom Bagaskoro • Selasa, 27 Februari 2024 | 04:12 WIB
Taufik Prihadi dan Susila menjelaskan cara kerja buka tutup palang Underpass YIA.
Taufik Prihadi dan Susila menjelaskan cara kerja buka tutup palang Underpass YIA.

 

 

RADAR JOGJA - Sejak 2020, setelah diresmikan Presiden Joko Widodo, Underpass YIA selalu mengadakan simulasi tanggap darurat. Simulasi yang dilakukan oleh BPBD Kabupaten Kulon Progo, rutin digelar tanggal 26 setiap bulannya.

 "Rutin digelar simulasi buka tutup palang di underpass YIA," ucap Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kulon Progo Taufik Prihadi, ketika memantau simulasi di ruang komando BPBD Kulon Progo, Senin (26/2).

 Baca Juga: Proses Rekapitulasi Suara Tingkat Kemantren Selesai, Dua Hari Lagi KPU Kota Jogja Gelar Rekapitualsi Tingkat Kota

Menurut Taufik, simulasi yang dilakukan bertujuan memberikan pemahaman bagi pengendara ataupun warga sekitar yang melintasi underpass. Penutupan palang dalam simulasi, untuk mencegah kendaraan masuk ke dalam underpass.

 "Ini dilakukan untuk mencegah kendaraan masuk selama selang waktu sebelum tsunami hingga kondisi aman," ucap Taufik.

 Baca Juga: PBSI DIY Ingin Emas PON 2024 dan Majukan Prestasi Bulutangkis di Kabupaten dan Kota 

Taufik menjelaskan, penutupan dilakukan pada jalan masuk setiap jalur. Terdapat 2 jalur, Jalur Timur dan Barat dimana arah masuk akan ditutup. Sedangkan arah keluar tidak ditutup. Hal ini diperlukan agar akses keluar bagi kendaraan yang sudah terlanjur masuk ke area trowongan bisa keluar.

 "Terowongan underpass cukup panjang, sehingga perlu mekanisme apabila bencana terjadi," tuturnya.

 Baca Juga: Bantul Masih Kekurangan EWS Banjir, Punya Enam Tapi Dua di Antaranya Rusak

Underpass dengan terowongan sepanjang 1,3 km ini, terletak di sekitar pesisir pantai. Sehingga apabila tsunami datang underpass akan langsung dipenuhi air dalam sekejap.

Menurut Taufik, apabila tsunami datang ada kemungkinan kendaraan terjebak di dalam terowongan. Adanya simulasi diharapkan mampu membiasakan pengguna jalan, sekaligus sebagai tindakan pencegahan.

 Baca Juga: Carut Marut Jual Beli Apartemen Malioboro City Jogja, Korbannya Bertambah Sembilan, Lapor ke Polda DIY

 "Di ruang komando terdapat akses langsung peringatan dini dari BMKG," ucap Taufik.

 Taufik menjelaskan, Tsunami Early Warning System (TEWS) yang terpasang di beberapa titik pesisir pantai Kulon Progo digunakan sebagai indikator peringatan dini. TEWS akan tersambung langsung ke ruang komando BPBD Kulon Progo.

 Baca Juga: Beroperasi Bulan Depan, TPST Minggir Diujicobakan Olah Sampah 5 Ton Perhari

Menambahkan pernyataan Taufik, Operator Peringatan Dini BPBD Kulon Progo Susila memberikan penjelasan mengenai mekanisme buka tutup pintu palang Underpass YIA. Terdapat mekanisme langsung dan mekanisme manual.

 Menurut Susila, mekanisme langsung digunakan saat darurat. Dimana antara peringatan alarm dan sistem penutup, diaktifkan hanya dengan satu tombol. Sedangkan, sistem manual diperlukan beberapa langkah untuk menutup dan mengaktifkan alarm.

 Baca Juga: Jumlah Pernikahan Dini di Bantul Menurun, Ini Alasannya...

"Kalau untuk simulasi, kami biasanya menggunakan cara manual," ucap Susila.

 Susila menjelaskan, cara manual lebih sesuai bila untuk simulasi, karena menyesuaikan dengan kondisi jalan. Saat simulasi, alarm terlebih dahulu diaktifkan, kemudian dilanjutkan pengumuman dari operator. Pengumuman tersebut dilakukan untuk memberitahu pengguna jalan apabila saat itu tengah melaksanakan simulasi. Selanjutnya, operator akan mengaktifkan sistem penutup palang.

 "Biasanya simulasi hanya berkisar 10 menit," ucap Susila.

 Baca Juga: Dampak Hujan Deras di Kulon Progo Sebabkan Rumah Warga dan Jalan Wisata Terkenal Longsor

Ia menjelaskan, apabila terjadi bencana  pengumuman akan digantikan dengan peringatan. Yang mana berisi rekaman suara dengan 3 bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, Jawa, dan Inggris.

 Sementara itu, Kordinator Data dan Observasi Stasiun Geofisika Sleman Arif Kurniawan menjelaskan, Pesisir Selatan termasuk daerah rawan gempa dan tsunami. Sehingga simulasi digiatkan untuk membiasakan petugas dalam mengoperasikan alat. Tak hanya itu, fungsi simulasi juga melihat kesehatan alat.

 Baca Juga: Terlalu Asyik Bermain Mobile Legends, Suami Abaikan Tanggung Jawab Keluarga Hingga Istri Minta Cerai!

"Apabila ada alat yang rusak saat simulasi, akan langsung diganti," ucap Arif.

 

Menurutnya, BMKG juga telah memasang beberapa alat untuk mengoptimalkan fungsi peringatan dini. Beberapa alat seperti Warning Reciever System (WRS) dan tower peringatan dini di Pantai Glagah, digunakan untuk memberikan sinyak le ruangvkomando secara realtime. (cr7)

 

Editor : Heru Pratomo
#joko widodo #YIA #kabupaten kulon progo #BPBD #underpass