KULON PROGO - Sejarah tambang mangaan di Kulon Progo, tergores tebal di Padukuhan Kliripan, Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Kokap.
Tambang mangaan ini sangat bersejarah karena penambangan dilakukan sejak tahun 1912 oleh Belanda dan ditutup operasinya pada 1939.
Saat ini, tambang Kliripan hanya tersisa lubang tambang yang bersejarah. Sebelumnya, pada tahun 2021 Kliripan ditetapkan sebagai salah satu warisan geologi atau geoheritage oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya (ESDM).
Penetapan Kliripan sebagai warisan geologi, membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo melakukan pembangunan bangunan penunjang di sekitar lubang atau terowongan tambang pada tahun 2022.
Tak hanya itu, pengumpulan catatan sejarah dilakukan agar unsur sejarah tambang dapat tersusun dengan baik.
Pj Bupati Kulon Progo Ni Made Dwipanti Indrayanti saat melakukan kunjungannya di area bekas tambang yang sudah direstorasi Kamis (1/2), mengungkapkan, Kliripan merupakan sumber mangaan terbesar di Indonesia saat zaman Belanda.
"Kami akan dorong pengembangan lokasi tambang mangaan Kliripan menjadi potensi wisata di Kulon Progo," ucap Ni Made.
Menurut Ni Made, Kliripan merupakan kawasan yang potensial bila dikembangkan sebagai destinasi wisata. Pengembangan wisata dapat dikembangkan dalam 2 tipe.
Yaitu, pengembangan wisata dengan minat khusus seperti geologi, atau wisata biasa.
"Perlu formulasi, bisa dijadikan dua wisata," ucap Ni Made.
Menurutnya pengembangan 2 wisata ini menyesuaikan kebutuhan masyarakat dan pengunjung. Terkadang pengunjung tidak terlalu berminat dalam menjelajahi terowongan.
Namun, ada pengunjung yang berminat dalam menjelajah, bahkan cukup antusias dengan pertambangan.
Ni Made mengungkapkan, keinginan masyarakat dalam pengembangan wisata sangat beragam. Sehingga diperlukan kombinasi dari penataan kawasan bekas tambang.
Pengembangan destinasi bagi Kliripan, harus mempertimbangkan berbagai hal. Karena melihat kerawanan terowongan, dan sejarah yang terkandung.
Pengunjung perlu dibatasi dan wisata harus memperhatikan keamanan.
"Sudah ada desainnya, dan sebelumnya pemerintah juga mengakuisisi dua titik untuk pengembangan objek wisata," ucap Ni Made.
Ni Made mengakui potensi yang dimiliki Kliripan. Adanya potensi ini harus benar-benar dikembangkan.
Sangat disayangkan apabila menyianyiakan potensi yang ada. Terlebih, lokasi Kliripan sangat dekat dengan bandar, sehingga berpotensi dikunjungi banyak orang.
"Ini kan sudah masuk dalam area geopark, dan bulan april nanti akan dinilai tim dari geopark nasional," imbuhnya.
Senada dengan Pj Bupati Kulon Progo, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kulon Progo Joko Mursito mengungkapkan, potensi besar yang dimiliki Kliripan perlu dikembangkan.
Ia menjelaskan, saat ini telah terbentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Kliripan.
Adanya Pokdarwis agar dapat mewujudkan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan wisata.
Masyarakat nantinya akan mendapatkan keuntungan dalam pengelolaan wisata, sehingga mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat.
"Geotourism Kliripan tetap akan berbasis pada masyarakat," ucap Joko.
Saat ini pengembangan geotourism Kliripan sudah terdapat masterplannya. Namun, perlu ada pengkajian lebih dalam kembali.
Ini agar wisata ini nantinya akan menjadi wisata unggul, yang berpotensi sebagai edukasi dan pemberdayaan masyarakat. (cr7)
Editor : Amin Surachmad