KULON PROGO - Jembatan yang menghubungkan ke objek wisata Pantai Trisik, Kulon Progo, Senin (29/1), mengalami patah pada pilar di bagian tengah jembatan.
Keadaan ini memaksa warga mencari jalan alternatif yang lebih jauh dan rusak.
Jembatan yang terletak di Padukuhan Sidorejo, Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, ini merupakan akses jalan strategis.
Tak hanya berhubungan dengan objek wisata Pantai Trisik, jembatan juga penting untuk kegiatan perekonomian dan pendidikan masyarakat.
"Kami mendapat laporan warga kemarin malam, dan pagi ini kami langsung datang untuk melihat kondisi," ucap Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kulon Progo Taufik Prihadi, saat melakukan inspeksi di Jembatan Trisik yang mengalami kerusakan, Selasa (30/1).
Saat warga melakukan pembersihan eceng gondok, BPBD Kulon Progo sempat memberikan bahan makanan untuk warga yang melakukan kerja bakti. Selain itu, BPBD juga membantu warga dalam upaya pembersihan.
Kedatangan Taufik Prihadi di lokasi bersamaan dengan datangnya sejumlah staf Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kulon Progo.
Mereka melakukan diskusi bersama warga untuk mencari solusi agar akses warga melalui jembatan tidak ditutup.
"Kami memprioritaskan kepentingan masyarakat, agar jembatan kembali dilalui," ucap Taufik.
Ia mengungkapkan, menerima keluhan masyarakat terkait vitalnya Jembatan Trisik bagi kehidupan mereka.
Taufik menganggap kejadian ini memiliki urgensi sehingga harus dicarikan solusi yang tepat.
"Dari BPBD akan melakukan tindakan sementara, berupa jembatan yang berada diatas, jembatan lama," jelas Taufik.
Taufik menjelaskan, jembatan sementara akan dirakit di atas jembatan lama. Teknisnya, pihak BPBD akan menambahkan balok di atas jembatan lama dengan bertumpu pada abudment dan pilar yang tidak amblas.
Warga diminta gotong royong dalam merakit jembatan. Sedangkan BPBD akan membantu sebagian tenaga, logistik makanan, dan material balok.
Jembatan sementara ini dimungkinkan bisa dilalui kendaraan roda empat.
"Rencana kami menggunakan glugu (kayu kelapa), materialnya akan kami sediakan. Untuk itu kami tadi meminta ke pihak kalurahan untuk membuat permintaan," jelas Taufik.
Sementara itu, Taufik juga menyoroti kewenangan pihaknya yang terbatas. Sebab, Sungai Gun Sheiro merupakan kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO).
Dia tak bisa berupaya banyak. Dia hanya bisa melakukan penanganan jangka pendek.
Di sisi lain, Taufik mengimbau masyarakat yang melakukan pembersihan eceng gondok dengan mengangkatnya ke pinggir sungai.
Hal ini agar eceng gondok tidak terbawa arus dan menumpuk di pilar-pilar jembatan lainnya.
"Kami hanya bisa melakukan penanganan jangka pendek, tapi kami akan melakukan dorongan rekomendasi agar jembatan segera ditangani pihak terkait," jelasnya.
Sejalan dengan pernyataan Taufik, Kepala Bidang Bina Marga DPUPKP Kulon Progo Nurcahyo Budi Wibowo mengungkapkan, pihaknya hanya melakukan pengecekan guna pelaporan ke BBWSSO.
DPUPKP akan melakukan analisa terkait kerusakan jembatan.
Nurcahyo mengungkapkan, pihak BBWSO dan DPUPKP sering melakukan pemeliharaan berkala.
Menurutnya, jembatan memiliki usia pakai tersendiri sehingga pihaknya sering kali melakukan inspeksi.
"Memang harus diganti melihat umur dan skala pemakaian jembatan," ucap Nurcahyo.
Temuan lapangan yang didapat atas kejadian ini akan dilaporkan ke BBWSSO. Selain itu, DPUPKP juga akan melakukan usulan agar diadakan pembangunan jembatan yang sesuai.
"Melihat kondisi aliran sungai yang sering tersumbat eceng gondok, kami akan mengusulkan jembatan dengan tipe 1 pilar," ucap Nurcahyo.
Nurcahyo mengungkapkan, pihaknya harus melakukan prosedur. Itu mulai dari pengusulan, penganggaran, perencanaan, dan pelaksanaan. (cr7)
Editor : Amin Surachmad