RADAR JOGJA - Warga Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Kokap, Kulon Progo serius mengembangkan usaha batik ecoprint. Produk ramah lingkungan dengan bahan baku dari alam ini banyak diminati. Menjanjikan sebagai usaha sampingan bagi ibu-ibu rumah tangga di kalurahan setempat.
HENDRI UTOMO, Kulon Progo.
Daun segar dari berbagai jenis pohon diletakkan di atas kain putih. Ada berbagai jenis daun yang biasa dipakai. Daun yang digunakan cukup banyak jenisnya. “Bisa menggunakan kayu secang, akar dan daun mengkudu, daun jati, daun jarak kepyar, daun ketapang dan banyak lagi, semua gampang didapat di lingkungan sekitar," ucap Wakil Ketua Kelompok Batik Ecoprint Hargomulyo, Diana Rahmawati, Selasa (10/10).
Dijelaskan, kain batik ecoprint ini memiliki banyak varian warna dan motif. Sehingga bisa dibuat pakaian, scarf, tas dan produk kerajinan lainnya. Kelompoknya terbentuk pada 2020 dari sebuah pelatihan PKK di kapanewon. “Sekarang anggota aktif ada 22 orang, mereka memproduksi batik setiap hari," jelasnya.
Diungkapkan, pemasaran batik Ecoprint Hargomulyo ini sudah lumayan luas, hampir semua wilayah di Jawa seperti Jakarta, Surabaya dan daerah lainnya sudah ada yang mengambil produk dari Hargomulyo.
Harga untuk bahan kain ada di kisaran Rp 200 ribu - Rp 300 ribu per kain.Untuk bahan sutra bisa sampai Rp 450 ribu per kain dengan ukuran dua meter. “Pemasaran kami menggunakan medsos, baik WA dan FB, kendati masih sebatas akun pribadi anggota," ungkapnya.
Koordinator Produksi Ecoprint Hargomulyo Tri Juminingsih menambahkan, kapasitas produksi saat ini bisa 20 kain per hari, adapun motifnya cukup beragam, motif yang seragam biasanya dibuat jika ada pesanan. Kendala sejauh ini, kata dia, pemasaran. Karena batik ini memang relatif mahal. Target pasarnya kalangan menengah ke atas. “Yang bikin mahal itu prosesnya, cukup rumit," imbuhnya.
Menurutnya, untuk proses intinya menggunakan pewarna alam, bahan baku lain ada kain, sementara bahan baku utama daun, akar dan bunga. Proses satu kain batik ecoprint membutuhkan waktu sekitar 10 hari, alasanya supaya warnanya benar-benar meresap dan tidak gampang pudar atau terkunci.
Batik ecoprint ini batik yang dibuat menggunakan pewarna alami dari tanin atau zat warna daun, bunga, akar atau batang. Kain yang digunakan umumnya menggunakan serat alami, sehingga warna tanin daun mampu meresap sempurna dan tahan lama.
Penggunaan pewarna alam ini juga melalui proses yang lumayan rumit, sehingga tidak muncul resiko kesehatan seperti alergi. Satu keunggulan batik ini jauh dari zat-zat kimia dan sangat ramah dengan lingkungan.
Batik ecoprint sendiri dipilih karena ramah lingkungan dan bahan bakunya banyak tersedia di alam. Berbagai jenis tanaman dan daun banyak yang bisa dimanfaatkan. Bahkan kadang juga mengambil limbah gergaji kayu, serbuknya bisa jadi bahan pewarna."Pertama kain bisa dibersihkan dari kandungan zat-zat kimia untuk mendapatkan hasil batik yang maksimal. Batik ecoprint Hargomulyo ini khas menggunakan daun teh-tehan, itu ciri khasnya selalu ada di setiap produk," ujarnya. (pra)