Jauh dari bising perkotaan, lokasi wisata ini berada di gugusan perbukitan Menoreh. Salah satu yang menjadi buruan para pengunjung adalah sensasi mandi di kolam-kolam alami dengan air yang masih bersih. Jika beruntung, pengunjung bisa menikmati air di cekungan alam itu berwarna biru toska. Warna air itu banyak dipengaruhi struktur batuan kapur khas Menoreh.
Ekowisata Sungai Mudal berjarak sekitar 30 kilometer atau 1 jam perjalanan dengan kendaraan bermotor dari pusat kota Jogja. Namun karena berada di dataran tinggi pegunungan, pastikan kendaraan dalam kondisi prima. Beberapa titik pengunjung melintasi medan yang berliku dan naik turun. Namun tenang saja, akses jalan ke Mudal tergolong cukup baik dan sudah beraspal.
Memasuki area ekowisata Sungai Mudal, pengunjung terlebih dulu diarahkan oleh pengelola menuju tempat parkir. Dari tempat parkir ini selanjutnya berjalan kaki ke loket masuk wisata yang berjarak sekitar 50 meter. Harga tiket parkir sendiri mulai dari Rp 2.000 untuk motor, Rp 5.000 mobil, dan Rp 10.000 untuk bus. Untuk tiket masuknya hanya Rp 2.000 bagi anak-anak, dan Rp10.000 bagi orang dewasa.
Di loket itulah suara gemuruh air terjun yang bersumber dari mata air setempat mulai terdengar. Air itu mengaliri sungai-sungai kecil serta mengisi kolam alami yang ada di sejumlah titik di area wisata itu. Setidaknya ada 4 kolam dengan kedalaman yang berbeda-beda. "Di sini ada 4 kolam, kedalamnya bervariasi. Ada satu meter untuk anak-anak, ada pula yang sampai 2 meter," ucap Pengelola Ekowisata Sungai Mudal, Mudi Heriyanto Jumat (10/11).
Kolam di sini masih alami karena sumbernya berasal dari Tuk Mudal, sebutan masyarakat untuk sumber mata air di Jatimulyo. Mata air itu, kata Mudi, sudah ada sejak zaman dahulu dan hingga kini belum pernah kering. Sekalipun masuk musim kemarau. "Mata air ini selalu mengalir, tidak pernah kering," ucapnya.
Air yang terus mengalir itu membuat kolam-kolam di Mudal tetap terjaga kejernihannya. Ini bisa terlihat dari kondisi air kolam yang berwarna biru kehijauan. Selain jernih, kondisi kolam di sini juga bersih. Sejauh mata memandang tidak terlihat sedikitpun sampah karena pembersihan dilakukan setiap hari.
Kondisi ini membuat siapapun yang bermain di kolam akan betah. Apalagi jika melihat sekeliling yang masih ditumbuhi pepohonan yang lembat. Tak hanya bermain air, pengunjung juga dapat menikmati terapi ikan di kolam yang terletak paling atas di Sungai Mudal.
Bagi yang ingin mandi tapi takut karena belum bisa berenang, pengelola menyediakan penyewaan pelampung. Ada pelampung rompi yang disewakan sebesar Rp 10.000 per orang dan pelampung ban Rp 5.000.
Selesai bermain air, pengunjung bisa bersantai sembari makan di warung-warung yang tersebar di area wisata. Fasilitas lain yang bisa dinikmati di sini, antara lain kamar mandi, musala, hingga WiFi gratis yang cukup membantu mengatasi sulitnya memperoleh akses internet di Perbukitan Menoreh. "Di sini sebenarnya juga ada wahana bermain seperti flying fox, tapi untuk sementara belum kita fungsikan karena masih terkendala alatnya," ujarnya.
Seorang pengunjung Tabah mengungkapkan, waktu berkunjung ke objek wisata sudah ditentukan. Mulai pukul 08.30-15.00. “Soalnya di luar waktu tersebut, pengunjung tidak diperkenankan masuk," bebernya. (tom/eno) Editor : Editor Content