Penutupan jalan dan pengalihan arus kendaraan sangat dirasakan pengusaha warung makan dan pedagang pasar di sekitar jembatan, omset penjualan turun drastis. "Dampaknya sangat terasa, sepi banget jualannya," ucap salah satu pemilik warung makan di timur Jembatan Glagah, Yatino, kemarin (29/9)
Menurutnya, sebelum jembatan ditutup, warungnya bisa melayani sedikitnya 50 orang per hari. Mereka adalah warga masyarakat dan pengguna jalan. "Nah sejak ditutup, jalan otomatis sepi, semua dialihkan lewat jalan lain," ujarnya.
Pasar Glagah juga terdampak signifikan. Lokasinya yang hanya sekitar 70 meter di sisi barat jembatan Glagah, Kalurahan Glagah, Kapanewon Temon menjadi sepi. Pelanggan dari timur Sungai Serang yang biasa mengakses jembatan jadi terkendala. "Warga Karangwuni, Wates, Panjatan kan lewat jembatan itu kalau ke Pasar Glagah, karena jembatan ditutup mereka tidak datang ke sini lagi," ucap penjual perabot rumah tangga di Pasar Glagah, Mini.
Menurutnya, penutupan jembatan sebenarnya tidak menjadi permasalahan. Sebab itu juga mempertimbangan keselamatan bersama. Ia hanya berharap, jembatan bisa segera diperbaiki. Sejauh ini belum adanya tanda-tanda perbaikan jembatan tersebut. "Kami sangat berharap jembatan segera diperbaiki. Supaya semua bisa kembali lancar, pasar ramai lagi," ujarnya.
Kepala Seksi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan DPUP-ESDM Kulonprogo Wira Sasongko Putro mengatakan, pihaknya bersama Satuan Kerja Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN) DIJ tengah mencari solusi untuk penanganan Jembatan Glagah yang terancam ambles itu. Hasil pemeriksaan sementara, ada banyak penyebab jembatan rusak. Usia jembatan memang sudah tua dan kini semakin rampau dilalui kendaraan bertonase berat, jembatan ini dibangun 1988 dengan tonase 6-8 ton. Namun sekarang banyak truk dan kendaraan yang melebihi tonase itu, kondisi itu diperparah korosi konstruksi jembatan di sisi barat. “Korosi karena jembatan dekat dengan pantai selatan," ucapnya.
Ditegaskan, proses perbaikan jembatan belum bisa dipastikan kapan akan dilaksanakan. Sebab jembatan juga masih dalam masa perubahan status dari kewenangan Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta kepada pemerintah pusat seiring aktifnya Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS). "Belum jelas akan ditangani tahun ini atau 2023, pendanaan dari APBN kami belum tahu. Kalau APBD tidak mampu," tegasnya.
Kendati demikian, pihaknya tetap akan mengupayakan agar jembatan bisa diperbaiki sesegera mungkin. Terlebih Jembatan Glagah merupakan bagian dari ruas JJLS yang kini ramai dilalui kendaraan baik dari arah Jabodetabek ke DIJ dan Jawa Timur atau sebaliknya. (tom/din) Editor : Editor Content