Titik rest area ini dipisahkan jalan nasional. Di sisi timur masuk wilayah Kapanewon Temon, Kulonprogo. Sementara di sisi barat masuk wilayah Kecamatan Bagelen, Purworejo. Hampir setiap hari, lokasi ini penuh dengan truk, baik siang dan malam. Para sopir memilih rehat di lokasi itu sebelum masuk meneruskan.
Salah satu Sopir, Sumarno, 45, warga Tulungagung, Jawa Timur, mengungkapkan, dia membawa truk tronton bermuatan besi untuk proyek di Surabaya. Memilih rehat di perbatasan DIJ-Jateng karena dinilai memiliki tempat yang luas. Selain itu, banyak pengasong yang bisa mencukupi kebutuhan selama perjalanan. "Rehat, ngopi dulu. Sudah perjalanan sehari dari Jakarta," ucapnya.
Sopir lain, Alex Samua, 53, warga Palembang mengungkapkan, dia bertolak dari Musi Rawas Sumatera Selatan dengan tujuan Solo. Dia sudah biasa lewat kawasan ini. Kalau dulu lewat pantura. “Saya sengaja berhenti disini sementara waktu karena di beberapa titik di Kulonprogo masih ada perbaikan jalan,” ungkapnya.
Ya, wilayah Purworejo dan Kulonprogo sejauh ini memang dikenal sebagai titik lelah atau titik jenuh pengendara. Baik mereka yang bertolak dari Jabodetabek tujuan DIJ dan Jawa Timur atau sebaliknya. Tidak hanya truk, kendaraan pribadi juga kadang banyak rehat di dua wilayah ini.
Setiap musim mudik Lebaran, titik pemberhentian di batas provinsi DIJ-Jateng menjadi salah satu lokasi pendirian pos pantau oleh pihak kepolisian. Sebelum jalur daendels aktif digunakan, Polres Purworejo dan Kulonprogo kadang membuat pos gabungan di rest area ini.
Namun setelah jalur selatan-selatan mulai berfungsi, hanya Polres Purworejo yang mendirikan pos pantau di Desa Dadirejo, Kecamatan Bagelen saat mudik lebaran. Sementara Polres Kulonprogo memilih geser ke timur Pertigaan Congot untuk membantu mengatur peralihan dari jalur nasional ke jalur Daendels. (tom/din) Editor : Editor Content