Dijelaskan, untuk memompa semangat para peserta, festival ini juga dilombakan. Setiap peserta disediakan piala dan uang pembinaan panitia. Disbud berkomitmen akan terus lestarikan permainan tradisional Kulonprogo ini.
Permainan tradisional nglarak blarak ini dimainkan enam orang yang tergabung dalam sebuah tim. Rinciannya tiga laki-laki penarik kuda blarak dan tiga perempuan pembawa bumbung dan keranjang. Aturan mainnya, masing-masing tim harus mengambil bumbung sebanyak-banyaknya. Jika satu tim berhasil dapat tiga bumbung atau lebih maka merekalah pemenangnya. Namun jika ada dua tim perolehan bumbungnya sama, akan ditentukan dengan sekali permainan lagi.
"Hari ini, ada lima bumbung yang diperebutkan. Permainan ini sebetulnya mengadopsi atau menggambarkan aktivitas warga Kulonprogo khususnya di Perbukitan Menoreh sebagai petani gula merah yang lekat dengan kegiatan menderes nira kelapa. Permainan tim atau kelompok ini dilengkapi dengan pelepah daun kelapa atau blarak, bumbung bambu, dan keranjang," katanya.
Kepala Dinas Pariwisata Kulonprogo Joko Mursito menyebut, permainan tradisional ini digali dari adat tradisi budaya masyarakat asli di Kulonprogo. Sejarah permainan ini berangkat di 2014. "Waktu itu ketika saya masih di Dinas Kebudayaan Kulonprogo melaunching permainan ini dalam festival nasional dan internasional, permainan ini merupakan perpaduan budaya, permainan tradisional dan olahraga," ucapnya.
Diterangkan, pada 2014, Kabupaten Kulonprogo berhasil meraih juara II nasional lomba permainan tradisional yang diikuti 33 provinsi se Indonesia. Tahun 2016, nglarak blarak bahkan mewakili Indonesia dalam festival serupa tingkat internasional yang diikuti 169 negara. "Kulonprogo waktu itu mewakili Indonesia menjadi juara I dalam festival internasional tersebut," katanya.
Menurutnya, nglarak blarak tidak hanya untuk menyemarakkan HUT Ke-77 Kemerdekaan Indonesia atau memperingati Satu Dasawarsa Undang-undang (UU) Keistimewaan DIJ, tetapi juga menjadi potensi atau daya tarik wisatawan. "Permainan ini sudah banyak dikenal, gaungnya juga tidak hanya nasional tetapi internasional, permainan ini bisa ditampilkan kapan saja sebagai salah satu pelengkap paket wisata," ujarnya.
Salah satu peserta, Fira Indah, warga Pengasih mengaku senang bisa menjadi salah satu tim permainan tradisional ini. Menurutnya butuh ketangkasan dan kekompakan untuk memainkannya. Selain itu juga harus tahu aturan permainannya agar tidak banyak terjadi pelanggaran. Harus tahu aturan mainnya, kalau melanggar dihukum harus mundur dua langkah dari tim lainnya. Titik tersulit saat lintasan menikung.”Seperti saya sebagai joki harus berpegang erat di atas sandal sepet ini agar tidak jatuh. Tapi seru dan sangat mengasyikkan," ungkapnya. (tom/din) Editor : Editor Content