Kebanjiran Order, Rela Berat Badan Naik 110 Kilogram
Hari Raya Idul Adha bisa dibilang momentum paling ditunggui oleh Supriastuti. Perempuan 41 tahun itu menjadi sosok paling diburu masyarakat Kulonprogo karena kelezatan bumbu rendang racikannya .
Hendri Utomo, KULONPROGO
AROMA rempah-rempah menguar tajam menusuk hidung dari rumah Supriastuti di Pedukuhan Kedunggalih, Desa/Kecamatan Pengasih, Kulonprogo kemarin (30/8). Di sudut ruangan, tungku perapian berkobar memberangus wajan besar. Tak jauh di sebelah tungku, tampah kecil penuh kapulaga dan kayu manis, sepiring cabai merah besar dan rawit, serta sejumput cengkih pilihan telah disiapkan.
Bawang Bombay sudah diiris besar, kemudian dimasukan ke dalam blender. Segelas minyak goreng menyusul. Sekilas seperti membuat jus bawang putih. Tak menunggu lama untuk membuat bubur bawang Bombay campur minyak itu. Supriastuti lantas menuangkannya ke dalam adonan bumbu yang sudah dipanaskan di wajan besar menindih di atas tungku
Tuti, sapaan akrabnya, tidak sendirian. Dia dibantu beberapa ibu yang tak kalah tekun dan telaten meracik bumbu. Tawa kecil mereka sesekali pecah menambah riang suasana, seolah menjadi ritual wajib agar bumbu dapur itu semakin mantap.
Berawal sebagai juru masak, Tuti telah menjadi langganan beberapa pedagang makanan di Kulonprogo. "Hobi saya memang icip-icip (mencicipi masakan). Mulai warung makan hingga restoran saya suka menggali bumbu-bumbu di balik makanan yang disajikan," ujarnya sambil asyik mengaduk adonan bumbu.
Meracik bumbu itu tidak mudah. Apalagi, bumbu rendang yang asalnya dari Sumatera Barat. Butuh semacam seni untuk meramu bumbu supaya pas di lidah semua orang. Membedakan bumbu juga harus melalui pengembaraan menu dari satu warung ke warung yang lainnya.
Kemampuan mengulik bumbu perempuan tiga anak ini telah diakui banyak orang. Tuti selalu tepat menebak ciri khas dari satu resep masakan yang dia makan.
"Soto misalnya, saya akan coba beberapa warung untuk mencari perbedaan rasanya dan harus ketemu di lidah. Gara-gara itu, berat badan saya bahkan pernah mencapai 110 kilogram. Ya itu tadi jajan terus untuk mencari resep," selorohnya.
Tuti menekuni usahanya selama 13 tahun. Meski tidak pernah belajar tata boga atau kursus, dia tetap profesional sebagai peracik bumbu layaknya chef restoran high class. Modalnya hanya lidah dan naluri, serta kemauan mengenali beragam olahan dan mencari tahu bahan bumbu yang digunakan.
"Suatu ketika tetangga bingung mencari bumbu olahan sebuah masakan, saya spontan berpikir bisa jadi duit nih. Jadilah saya sebagai penjual bumbu," ungkap Tuti menceritakan awal usahanya yang bisa mendatangkan hasil Rp 350.000 ketika itu.
Pertama membuat bumbu dengan cara mengulek manual menggunakan cobek. Semakin banyak pesanan, dia lantas menumpang di penggilingan bumbu di Jogja. Hingga akhirnya memakai blender dan meracik keseluruhan bumbu di dapur rumahnya sendiri.
Tuti lantas mengembangkan usaha dengan membuat bumbu instan. Dari situlah dia melibatkan ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumahnya untuk berbagi rezeki.
Persaingan usaha membuat bumbu instan dan maraknya bumbu kemasan pabrik tak menjadikannya patah semangat. Itu justru menjadikan tantangan untuk terus berkreasi.
"Harga bumbu bikinan saya lebih murah dibanding bumbu instan pabrikan. Namun soal rasa tidak kalah. Malah pas bagi para pelanggan," ujarnya berpromosi.
Tuti pun tak segan membocorkan resep suksesnya. Dia membuat bumbu sampai benar-benar matang dan tanpa menggunakan pewarna makanan berbahaya. Itu yang diyakininya sebagai keunggulan produknya. Bahkan, bumbu buatan Tuti bisa bertahan selama satu bulan jika disimpan di kulkas. Tiap kemasan bumbu racikannya bisa untuk memasak satu kilogram daging. "Garam dan gula cukup menjadi pengawet alami, pedagang lain boleh memasak bumbu setengah matang agar tidak boros bahan bakar atau bahkan jual bumbu mentah. Namun tidak buat saya, kendati harus tiga jam mengolahnya," ujar pemilik UD Mbangun Bumi Adikarto ini.
Dari semua bahan yang dibutuhkan, cardamom (kapulaga hijau atau kapulaga India) paling sulit dicari. Adapun, harganya lebih mahal dibanding kapulaga lokal. Cardamom memberikan rasa khas pada bumbu racikannya. Untuk menambah cita rasa Melayu pada bumbu kare.
Selain bumbu rendang dan kare, di dapur seluas enam meter persegi itu Tuti juga membuat bumbu sate, rawon, bistik, gulai, hingga tongseng. "Jelang Idul Adha ini bumbu rendang paling banyak dicari. Saat Idul Fitri bumbu opor," lanjutnya.
Menyambut Idul Adha kali ini Tuti telah menghabiskan dua kuintal rempah-rempah untuk memproduksi lima ribu kemasan bumbu. Semuanya telah laku dijual. (yog/ong) Editor : Administrator