Menjaga Cita Rasa Rempah Otentik, Penjualan Jenang Yu Jumilah Tembus 1.500 Cup saat Long Weekend

Magang Radar Jogja • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 19:29 WIB
Menjaga Cita Rasa Rempah Otentik, Penjualan Jenang Yu Jumilah Tembus 1.500 Cup Saat Long Weekend
Menjaga Cita Rasa Rempah Otentik, Penjualan Jenang Yu Jumilah Tembus 1.500 Cup Saat Long Weekend

 

YOGYAKARTA - Di tengah maraknya kuliner kekinian, makanan tradisional tetap memiliki daya pikat tersendiri bagi wisatawan. Hal ini dibuktikan oleh lapak Jenang Yu Jumilah Werni-Werni Jenang di Pasar Ngasem, Yogyakarta, yang mampu menjual hingga hampir 1.500 cup per hari saat libur panjang (long weekend).

Pemilik usaha, Fajar Suryati (57), menuturkan lapaknya di Pasar Ngasem baru berjalan sekitar dua tahun. Namun, pengalaman serta resep olahan jenang yang ia jalankan sebenarnya sudah berlangsung jauh lebih lama.

Menurut Fajar, kunci utama menjaga loyalitas pelanggan terletak pada konsistensi rasa. Mulai dari pemulihan bahan baku hingga proses memasak, seluruh tahapan dipertahankan secara ketat agar karakter rasa tidak berubah.

Baca Juga: Lomba Menyanyi Anak-Anak Manunggal Fair 2026 Kulon Progo Dibatalkan, Penyelenggara Minta Maaf

"Harus konsisten rasanya dari awal sampai sekarang. Bahan-bahannya tetap berkualitas dan cara memasaknya konsisten, jadi rasanya tidak berubah-ubah," ujar Fajar, (27/9).

Fajar menjelaskan, jenang buatannya memiliki keunggulan rasa karena tidak sekadar mengandalkan rasa manis. Ia mempertahankan paduan rempah tradisional khas Jawa, khususnya Yogyakarta, seperti jahe dan kayu manis, yang dipadukan dengan gula aren serta santan murni.

"Kalau jenang umumnya cuma manis, buatan saya punya rasa rempah yang otentik. Ada sensasi jahe dan kayu manisnya, serta wajib memakai gula aren dan santan asli," jelasnya.

Baca Juga: Tukar Uang Asing Lebih Praktis lewat BRI Money Changer, Bisa Terima Uang Lusuh dan Buka Saat Weekend

Rasa yang otentik tersebut berdampak langsung pada angka penjualan. Pada hari kerja (weekday), penjualan rata-rata mencapai 500 cup per hari, lalu meningkat menjadi sekitar 800 cup pada akhir pekan (weekend).

Angka tersebut melonjak hingga mendekati 1.500 cup per hari saat masa libur panjang dan belum termasuk porsi yang disantap pengunjung langsung di tempat.

Daya tarik kuliner tradisional ini juga memikat wisatawan dari luar daerah, salah satunya Ayuna (24). Wisatawan asal luar  Yogyakarta ini mengaku mendatangi Pasar Ngasem setelah melihat unggahan yang viral di media sosial TikTok.

Baca Juga: Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter, Wisatawan Pantai Selatan DIY Dihimbau Waspada

"Saya penasaran karena viral di TikTok. Ingin tahu suasana Pasar Ngasem seperti apa," tutur Ayuna.

Saat berkunjung, Ayuna mencicipi langsung Jenang Yu Jumilah. Menurutnya, daya tarik utama kuliner ini ada pada pilihan varian yang beragam, rasa santan yang gurih gurih-manis pas, serta harga yang terjangkau.

"Makanannya enak dan punya rasa khas yang sulit dideskripsikan. Harganya juga ramah di kantong," ungkapnya.

Meski begitu, Ayuna memberikan saran agar tata kelola area pasar ditingkatkan, seperti pengelompokan jenis pedagang agar lebih rapi serta penambahan fasilitas tempat duduk bagi pengunjung.

Baca Juga: Escrow Bukan Obat Koperasi Desa

Terkait harga, Fajar menyebutkan bahwa penyesuaian tarif beberapa menu terpaksa dilakukan akibat kenaikan harga bahan baku dan kemasan (thinwall serta plastik) dalam dua tahun terakhir. Menu yang semula seharga Rp 10.000 naik menjadi Rp 11.000, sementara porsi seharga Rp 12.500 disesuaikan menjadi Rp 15.000.

Kendati demikian, Fajar menegaskan penyesuaian harga tetap ditekan seoptimal mungkin agar tetap terjangkau bagi masyarakat umum.

"Prinsip saya tidak perlu ambil untung banyak, yang penting sedikit tetapi berkah," tuturnya.

Melalui usahanya, Fajar berharap kuliner tradisional seperti jenang dapat terus dilestarikan dan makin digemari oleh generasi muda.

Abelia Nababan

 

Editor : Heru Pratomo
yu jumilah Pasar Ngasem long weekend jahe TikTok