Dulu Bukan Ayam tapi Daging Kijang, Sate Ambal Kebumen Jadi WBTb Indonesia

Muhammad Hafied • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 21:12 WIB
Sate Ambal
Sate Ambal

 

 

KEBUMEN - Sate Ambal resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Menyusul penetapan tersebut, Pemkab Kebumen segera mengupayakan pengajuan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) untuk memperkuat perlindungan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi kuliner khas pesisir selatan Kebumen itu.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kebumen Frans Haidar mengatakan, penetapan ini menjadi kado indah bagi pemerintah daerah.

Baca Juga: Ortu Korban Dorong APH Usut Tuntas Kekerasan di Daycare Little Aresha Gedung Utara

Pun memberikan nilai tersendiri bagi para pelaku usaha yang selama ini berkecimpung menggeluti usaha Sate Ambal. Dia berharap status WBTb akan memiliki nilai tawar terhadap keberadaan Sate Ambal. 

"Pengumuman penetapan pada awal September kemarin. Sekali lagi, ini kebanggaan kita bersama," katanya kepada Radar Jogja, kemarin (14/9).

Frans menyatakan, penetapan Sate Ambal sebagai WBTb tidak datang tiba-tiba. Semua dilakukan melalui proses panjang. Di awali pengajuan proposal secara berjenjang pada 2025.

Baca Juga: Klaim Tak Pakaikan Baju Anak karena Antre Mandi, Penyidik Polresta Jadi Saksi Sidang Little Aresha

Disusul pembuatan naskah kajian dan dokumen pendukung dengan melibatkan para pihak yang mengetahui pasti perjalanan Sate Ambal. Berlanjut pada tahap penilaian ditingkat kementerian sebelum ditetapkan sebagai WBTb.

Sate Ambal, kata Frans, diusulkan menjadi WBTb masuk dalam domain pengetahuan tradisional. Di mana sate tersebut menjadi 10 objek pemajuan kebudayaan yang akan dipertahankan.

 "Ada proses verifikasi, revisi dan segala macam. Setelah ini kami menentukan langkah strategis," ucapnya.

Baca Juga: Dua Warga Magelang Jadi Korban Tenggelamnya KM Virgo; Mamad Selamat, Hisyam Masih Dicari

Frans menambahkan, jika dilihat dari tekstur dan tampilan, Sate Ambal tidak jauh berbeda dengan sate dari daerah lain. Namun, perbedaan paling mencolok sebenarnya pada racikan bumbu saus sate.

Sejak lama Sate Ambal mempertahankan saus yang terbuat dari tempe. Racikan bumbu ini yang menjadi ciri khas karena tidak ditemukan pada sate lain. "Bumbu itu tidak tergantikan. Diwariskan turun temurun sampai sekarang," bebernya.

Sejatinya, Sate Ambal selama ini telah menjadi salah satu identitas sekaligus potensi yang dimiliki Kabupaten Kebumen. Terdapat beberapa nilai yang terkandung dalam sate tersebut.

Baca Juga: Kenalkan Pertanian Lewat Literasi, Polbangtan Kementan Tampil di Gemilang Literasi Fest 2026

 Yakni, nilai ekonomi, budaya, sosial hingga pendidikan. Dalam waktu dekat pemkab segera menentukan peta jalan agar sate tersebut memiliki nilai lebih selepas penetapan WBTb.

"Ada upaya pengajuan HAKI. Terus, pengembangan lewat promosi dan digitalisasi. Lalu pemanfaatan lewat berbagai kegiatan daerah," terangnya.

Baca Juga: Data DTSEN Bermasalah, Dukuh di Kulon Progo Temukan Pensiunan ASN Terima Bansos Beras

Salah satu penjual Sate Ambal Rafsi Bara mengatakan, nama Sate Ambal diambil dari penyematan nama wilayah penghasil sate, yakni di wilayah Kecamatan Ambal. Belum diketahui pasti sejarah pertama kali Sate Ambal dibuat.

Namun dari cerita masyarakat, konon sate ini sudah ada sejak zaman kerajaan. "Dari kakek saya sudah buat sate. Dulu itu ceritanya belum pakai ayam, tapi hewan buruan seperti kijang," jelasnya. (fid/wia)

 

Editor : Heru Pratomo
ayam Sate Ambal kebumen WBTB Indonesia. kijang