Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Warung Legendaris, Lebih dari Dua Dekade Eksis, Soto Rembang Andalan Mahasiswa UNY Lintas Generasi

Agung Dwi Prakoso • Kamis, 5 Februari 2026 | 15:05 WIB
Suasana Soto Rembang Berlokasi di Gang Kuwera Nomor 1/12, Mrican, Caturtunggal, Depok, Sleman, tak jauh dari Gedung Fishipol UNY.
Suasana Soto Rembang Berlokasi di Gang Kuwera Nomor 1/12, Mrican, Caturtunggal, Depok, Sleman, tak jauh dari Gedung Fishipol UNY.

JOGJA - Lebih dari dua dekade, warung soto sederhana di dalam gang sempit itu menjadi jujukan mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak cerita yang dialami penjualnya, mulai dari kasbond hingga langganan yang telah ganti generasi.

Namanya Soto Rembang. Berlokasi di Gang Kuwera Nomor 1/12, Mrican, Caturtunnggal, Depok, Sleman, tak jauh dari Gedung Fishipol UNY. Gang masuk menuju tempat tersebut relatif kecil, mungkin tak muat jika dilewati mobil. Petunjuknya hanya berupa spanduk kecil bertuliskan Soto Rembang dengan gambar anak panah yang mengarah pada warung.

Setelah masuk dan menyusuri gang. Tak berselang lama deretan motor yang jumlahnya puluhan, terparkir di sekitar rumah sederhana. Rumah itulah yang menjadi lokasi berjualan Soto Rembang. Tempat yang tak pernah sepi sejak buka pukul 08.00 hingga 14.00.

"Tahun 2002 sudah mulai jualan sampai sekarang, awal-awal IKIP menjadi UNY," ujar Pemilik dari Soto Rembang, Yuswo saat ditemui, Kamis (5/2).

Laki-laki berumur 50 tahun itu menceritakan bahwa warung Soto Rembang didirikan saat masa transisi atau perubahan IKIP Karangmalang menjadi UNY pada tahun 1999. Terpaut dua tahun sebelum warung didirikan. Mahasiswa UNY yang jajan di sana pun semakin bertambah banyak.

"Bahkan mereka yang dulu kuliah itu udah punya anak, kalau pas ke Jogja mereka masih mampir di sini dengan keluarganya," paparnya.

Mulanya, warung soto itu berada di pinggir jalan Gang Guru. Tepat diseberang Fakultas Ilmu Sosial (FIS) yang sekarang menjadi Fishipol. Kemudian karena terdampak gempa bumi 2006, warung tersebut pindah di lokasi saat ini. "Pembeli tetap banyak," imbuhnya.

Penamaan Soto Rembang cukup unik. Sebab, banyak orang berpikir bahwa itu merupakan soto khas dari Rambang, nama daerah di Jawa Tengah. Ternyata bukan. Rembang adalah akronim dari Sarem-Brambang. Sarem adalah garam dan Brambang adalah bawang merah goreng. Dua bumbu dapur yang saat itu menjadi bahan pokok Soto Rembang.

"Dulu kan cuma sederhana, cari bumbu sederhana. Ayo Digawe Rembang sik wae (Dibikin rembang dulu aja)," ucapnya.

Saat ini, Yuswo banyak berinovasi dan menambahkan berbagai macam bumbu dapur bahkan bumbu goreng. Soto yang dijual pun tak hanya satu macam. Ada varian soto balungan, brutu, kulit hinngga paru ayam.

"Dari harga Rp 500 rupiah, Rp 1000 hingga saat ini 10.000. Naik angkot itu masih Rp 250 rupiah," jelasnya.

Lulusan UNY angkatan 2000 sampai saat ini, lanjutnya, masih mampir ke warungnya. Banyakyang bercerita sudah menjadi dosen, kepala sekolah, TNI dan pengusaha. Banyak juga yang sukses di luar Jawa.

"Anak mereka yang dikuliahkan di UNY juga jajan di sini, lintar generasi," kelakarnya.

Ia membagikan trik bisa tetap eksis hingga puluhan tahun. Ia termasuk orang yang mau mendengarkan masukan dari pembelinya. Terlebih terkait dengan porsi dari soto tersebut.

"Kalau mahasiswa kan sing penting wareg (yang penting kenyang) makanya porsi jumbo," ujarnya.

Selain itu, ia cukup dekat dengan mahasiswa. Bahkan, banyak cerita mahasiswa yang kasbond (hutang) karena tidak mempunyai uang. Ia pun tidak mempermasalahkannya. Mereka yang saat ini sukses kembali ke warung kemudian membayar hutangnya selama bertahun-tahun tersebut.

"Saya saja sampai lupa kalau mereka punya utang karena saking lamanya," imbuhya.

Salah satu alumni UNY angkatan 2010 Nana mengatakan mempunyai cerita dengan warung Soto Rembang. Selama berkuliah, warung tersebut menjadi andalannya untuk mengisi perut yang kosong.

"Dulu sering banget saya mampir ke sana, rasanya tidak berubah sampai sekarang," ujarnya.

Tak hanya itu, setelah ia menikah dan mengandung anak pertamanya, ia sempat mengidam untuk membeli soto tersebut. Ia tak tahu apa sebabnya, hanya tiba-tiba pengen makan Soto Rembang.

"Saya minta tolong suami saya untuk membelikan Soto Rembang," bebernya. (oso)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#universitas negeri yogyakarta #warung soto #soto rembang #dua dekade #Warung Legendaris