Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Inilah Soto Djiancuk, Nama Kuliner dari Warung Soto Nyentrik di Daerah Bantul

Magang Radar Jogja • Sabtu, 17 Januari 2026 | 10:14 WIB
Menikmati enaknya soto djiancuk di Bantul, DIY.
Menikmati enaknya soto djiancuk di Bantul, DIY.

RADAR JOGJA - Bagaimana perasaan Anda ketika mendengar kata djiancuk? Pasti kesal bukan? Namun hal ini berbeda dengan ibu Suparjinah.

Ibu satu ini justru malah senang apabila disapa dengan “ibu soto djiancuk”.

Ketika orang lain menganggap kata djiancuk sebagai umpatan kasar, Suparjinah menganggap kata djiancuk sebagai ungkapan pertemanan.

Menurutnya, orang-orang yang sudah lama berteman akan terbiasa menggunakan ungkapan djiancuk tanpa tersinggung satu sama lain.

Warung soto ini merupakan warung yang menyediakan soto dengan resep khas Blitar, Jawa Timur.

Warung ini sudah berdiri sejak tahun 2000-an di Bantul, Yogyakarta. 

Tepatnya berada di Jl PGRI II No 59, Sonopakis Lor, Ngestiharjo, Kasihan, Kabupaten Bantul.

Pemberian nama djiancuk disini ditegaskan untuk memberi label bahwa soto tersebut memang khas dari Blitar.

Nama djiancuk diakui oleh Suparjinah sebagai nama pemberian dari suaminya sebagai orang asli Blitar.

Memiliki suami orang Blitar membuat Suparjinah merasa biasa dengan kata djiancuk.

Sebab orang Blitar, khususnya Jawa Timur kerap menggunakan kata tersebut sebagai bahan bercanda sehari-hari.

Dengan adanya soto djiancuk ini secara tidak langsung Suparjinah juga mengungkapkan kecintaannya dengan Blitar, bahkan ia juga sampai menjatuhkan hatinya untuk orang Blitar.

Suparjinah mengaku mendapat resep soto tersebut dari warisan nenek buyut suaminya.

Lalu, berbekal resep tersebut, Suparjinah dan suami memiliki ide untuk jualan soto di tempat tinggalnya, yaitu Bantul.

Soto ini memiliki cita rasa yang berbeda dengan soto pada umumnya di Jogja dan Bantul.

Hal ini karena rempah-rempah yang digunakan pun juga berbeda.

Kuah kental kaldu sapi membat rasanya makin segar dan nendang di lidah konsumen.

Bumbu rempahnya sangat terasa, tanpa perlu ditambahkan jeruk nipis, kecap, ataupun sambal.

Suami Suparjinah yang juga berlatar belakang seniman, berperan besar dalam mendesain bangunan warung.

Ia sengaja menjadikan warung tersebut sebagai galeri seni lukisannya.

Mulai dari dinding batu-bata dan jendela miring terkadang membuat pengunjung bertanya-tanya tentang esensinya.

Selain itu, ada pula hiasan bambu, kelapa-kelapa tua, ikatan jagung, gergaji tua, dan tulang-belulang semakin menambah nilai eksentrik serta estetika ruangan.

Namun, nilai-nilai itu hanya dapat dirasakan oleh orang yang sudah melanglang buana di dunia seni. (Ahmad Yinfa Cendikia)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#soto #blitar #Yogyakarta #lokasi #menu #Kuliner #nyentrik #Khas Jawa Timur #Bantul #Soto Djiancuk