Selain wisata pantainya yang terkenal, gunung di sebelah selatan Yogyakarta ini juga memiliki kuliner unik. Salah satu makanan khas dari Gunungkidul adalah walang goreng atau belalang goreng.
Seperti namanya, walang goreng berasal dari belalang kayu yang dibersihkan, dibumbui, dan digoreng hingga renyah.
Bentuk tubuhnya yang kecil dan dagingnya yang sedikit membuat hasil masak walang goreng selalu krispi.
Biasanya sebelum digoreng, belalang dipotong sayap dan kakinya untuk menghindari tertusuk atau tersedak karena memiliki duri. Sedangkan bagian kepala hingga tubuh dapat dimakan dengan aman.
Meskipun berbahan dasar dari serangga, walang goreng nyatanya memiliki kandungan protein yang lebih tinggi daripada daging sapi.
Apabila daging sapi memiliki kadar protein sebesar 57 persen, belalang bisa mencapai kadar protein 62 persen atau bahkan lebih.
Siapa sangka dengan tubuhnya yang kecil tersebut, mengandung banyak manfaat untuk kesehatan. Selain protein, belalang juga mengandung zinc, zat besi, kalsium, fosfor, mangan, magnesium, selenium, tiamin, niasin, asalm folat, vitamin B2, B5, dan B7.
Walang goreng kerap kali dinikmati sebagai camilan, bisa juga sebagai lauk yang dimakan bersama nasi.
Teksturnya yang renyah dengan rasanya yang gurih meskipun hanya berbumbu bawang dan garam dapur membuat banyak orang ketagihan.
Makanan khas Gunungkidul ini dapat kamu beli di toko oleh-oleh atau di kios pinggir jalan utama Jogja-Wonosari.
Terkadang kios pinggir jalan menjual langsung dari pedagang jadi dapat dipastikan harga walang goreng lebih murah.
Keunikan kuliner satu ini membuat banyak wisatawan tertarik. Walaupun ada yang ragu karena berasal dari serangga, beberapa wisatawan yang sudah mencoba menjadi ketagihan.
Sayangnya ada beberapa orang yang mengalami reaksi alergi seperti gatal-gatal setelah memakan walang goreng.
Reaksi alergi tidak terjadi secara langsung sehingga dapat disimpulkan bahwa orang-orang memiliki batasan dalam memakan makanan ini.
Jadi ketika kamu merasakan gejala tersebut, pastikan kamu tidak memakan terlalu banyak walang goreng.
Penulis: Hanifah Fajri Nurhikmah
Editor : Bahana.