RADAR JOGJA – Di tengah berkembangnya ragam kuliner modern, tiwul tetap bertahan sebagai makanan tradisional yang menjadi ikon kuliner khas Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Makanan berbahan dasar singkong ini kini bukan lagi sekadar pangan alternatif, melainkan telah menjelma menjadi sajian istimewa yang diminati wisatawan lokal maupun mancanegara.
Tiwul adalah makanan tradisional khas masyarakat Jawa, khususnya daerah Gunungkidul. Dahulu, tiwul dikenal sebagai pengganti nasi di masa sulit ketika beras sulit diperoleh.
Namun kini, tiwul justru menjadi daya tarik kuliner utama yang menggambarkan kesederhanaan sekaligus kekayaan cita rasa lokal.
Tiwul terbuat dari singkong yang dikeringkan dan dihaluskan menjadi gaplek, kemudian dikukus hingga matang dan disajikan dengan parutan kelapa serta gula merah.
Rasanya gurih dan manis, memberikan sensasi nostalgia bagi penikmat kuliner tradisional.
Masyarakat lokal Gunungkidul, terutama di kawasan Wonosari, Tepus, dan Playen, menjadi pelaku utama dalam menjaga keberlangsungan produksi tiwul.
Banyak warga yang menjadikan pembuatan tiwul sebagai usaha keluarga.
Pusat produksi dan penjualan tiwul tersebar di pasar-pasar tradisional Gunungkidul seperti Pasar Wonosari, Pasar Ngawen, dan Pasar Nglipar.
Popularitas tiwul meningkat pesat sejak tahun 2015, seiring berkembangnya sektor wisata Gunungkidul.
Pemerintah daerah mulai memperkenalkan tiwul dalam berbagai festival kuliner dan acara promosi pariwisata, seperti Festival Tiwul Gunungkidul yang rutin diadakan setiap tahun di Alun-Alun Wonosari.
Dengan cita rasa khas dan nilai budaya yang tinggi, tiwul kini menjadi simbol kuliner Gunungkidul yang mempertemukan masa lalu dan masa kini.
Dari pangan rakyat menjadi primadona wisata kuliner, tiwul membuktikan bahwa makanan tradisional bisa tetap eksis dan berdaya saing di tengah gempuran kuliner modern
Penulis: Ni Made Shinta Apriliayani
Editor : Bahana.