Itulah tanda Jenang Mbah Sastro sudah siap dijajakan. Meski sederhana, dagangan Mbah Sastro selalu habis hanya dalam waktu dua jam.
Sejak 1989, Mbah Sastro berjualan jenang dengan cara berkeliling kampung.
Setiap langkahnya membawa harum jenang yang ia masak sendiri menggunakan resep turun-temurun dari sang simbah.
Setelah hampir tiga dekade berkeliling, pada 2018 ia memilih untuk menetap di satu tempat, agar bisa berjualan dengan lebih nyaman.
Harga seporsi jenang kini hanya Rp5.000, sangat terjangkau, mengingat dulu di awal usahanya satu porsi hanya 50 perak.
Ada empat pilihan jenang favorit yaitu bubur sumsum putih yang lembut, candil cokelat yang kenyal manis, mutiara merah yang legit, dan ketan hitam dengan rasa gurih khas.
Semuanya dibuat langsung oleh tangan Mbah Sastro, tanpa campuran bahan instan.
Tak sedikit pelanggan yang rela datang pagi-pagi agar tak kehabisan dan biasanya baru buka dua jam sudah habis terjual.
Kesederhanaan dan cita rasa khas jenang ini membuat banyak orang rindu, terutama mereka yang mencari kenangan rasa masa kecil.
Lebih dari sekadar makanan, Jenang Mbah Sastro adalah simbol kegigihan dan warisan rasa tradisional Jogja yang terus hidup di tengah modernitas.
Penulis : Arsy Apriliany Munawaroh