RADAR JOGJA- Jika kamu tengah berjalan menyusuri kawasan Malioboro atau Pasar Beringharjo di Kota Yogyakarta, jangan lewatkan untuk mencicipi satu kuliner legendaris yang sederhana tapi melegenda Sate Kere Mbah (Bu) Suwarni.
Warung kecil ini telah lama menjadi ikon kuliner rakyat Jogja, dan dari generasi ke generasi reputasinya terus tumbuh sebagai salah satu jajanan wajib bagi wisatawan maupun warga lokal.
Pangkalan usaha Bu Suwarni berada di Jalan Pabringan No. 16, Ngupasan, Gondomanan, tepatnya di emperan dekat pintu selatan Pasar Beringharjo.
Lapaknya sederhana namun selalu ramai karena aroma bakaran sate yang menggoda serta antrian pengunjung sejak pagi hingga pertengahan sore.
Istilah “kere” dalam nama sate ini berasal dari bahasa Jawa, yang berarti “tidak mampu” atau “miskin”.
Nama tersebut mencerminkan asal-usul kuliner ini sebagai inovasi masyarakat yang tak mampu mengonsumsi daging, kemudian mengolah bahan alternatif seperti jeroan atau gajih (lemak sapi) untuk menghasilkan cita rasa gurih yang terjangkau.
Oleh karenanya, kedekatan antara kata “kere” dan identitas kuliner ini menjadi bagian dari warisan sejarah kuliner masyarakat Jawa
Sejak tahun 1984, Bu Suwarni telah memulai usaha jabatan sate kere ini, dan hingga kini tetap mempertahankan resep turun-temurun yang menjadi ciri khasnya.
Meskipun banyak kuliner baru bermunculan, Sate Kere Bu Suwarni tetap eksis dan terus menarik pembeli dari berbagai kalangan, baik warga lokal maupun turis.
Rasa dari Sate Kere di warung Bu Suwarni dikenal manis gurih, dengan bumbu kacang dan kecap yang khas.
Proses penyajiannya tidak rumit: sate dibakar di atas arang, kemudian dilumuri kecap dan ditaburi bumbu kacang, sehingga aroma panggang dan rasa manis-gurih menyatu menjadi daya tarik tersendiri.
Soal harga, Sate Kere Bu Suwarni sangat terjangkau. Sekali tusuk sate kere dijual sekitar Rp 4.000, sementara harga ketupat sekitar Rp 3.000.
Ada juga varian sate seperti sate koyor, sate ginjal, dan sate daging sapi untuk pengunjung yang ingin cita rasa lebih “berisi”.
Sementara itu, dalam porsi lengkap, harga berkisar dari yang sangat ekonomis hingga sekitar puluhan ribu tergantung variasi dan jumlah tusuk.
Jam operasional warung Bu Suwarni biasanya dimulai pukul 10.00 WIB hingga sekitar pukul 16.00 WIB setiap hari. Karena tempatnya sederhana dan kursi duduk terbatas, pengunjung dianjurkan datang lebih awal untuk menghindari antrian atau kehabisan bahan sate.
Para pengunjung yang datang tak hanya warga Jogja sendiri, tetapi juga pelancong dari dalam maupun luar negeri yang penasaran ingin mencoba kuliner rakyat khas Indonesia.
Uniknya, meski bahan inti sate kere bukan daging prime cut, tetapi keunikan resep, cara bakar, dan kualitas bumbu menjadikan rasa sate ini “nempel” di lidah.
Bahkan ada yang menyebut bahwa dalam satu hari, Bu Suwarni dapat menghabiskan hingga 15 kg gajih dan daging sapi untuk memenuhi permintaan pengunjung.
Bagi siapa pun yang berencana berkunjung ke Yogya, Sate Kere Bu Suwarni wajib masuk daftar kuliner yang dicoba. Kebersahajaan tempat, harga terjangkau, serta rasa yang autentik dan “menggigit” menjadikannya ikon kuliner yang tetap relevan di tengah persaingan kuliner modern.
Penulis: Adella Haviza
Editor : Bahana.