Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo meresmikan taman tematik dan gapura baru yang menjadi wajah utama kawasan Kampung Pathuk, Ngampilan, pada Selasa (7/10/2025).
Peresmian dilakukan dengan penandatanganan prasasti dan pemukulan gong, disaksikan para pelaku industri bakpia serta masyarakat sekitar.
Dalam sambutannya, Hasto menyebut bahwa pembangunan gapura bukan hanya untuk memperindah kawasan, tetapi juga sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah dan mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat berbasis budaya lokal.
“Sentra Bakpia Pathok adalah bagian dari sejarah ekonomi rakyat Jogjakarta. Kita ingin agar kawasan ini tidak hanya dikenal sebagai pusat oleh-oleh, tetapi juga sebagai ruang publik yang nyaman, estetik, dan mencerminkan kekhasan budaya lokal," ujar Harso, Selasa (7/10/2025).
Asal-Usul Bakpia Pathok, Akulturasi Budaya
Menilik secara harfiah, istilah bakpia berasal dari bahasa Hokkian, yaitu “Bak” yang memiliki arti daging dan “Pia” yang artinya kue. Jadi, jika digabungkan “Bakpia’ berarti roti isi daging. Di tanah asalnya, Tiongkok, kue ini dikenal sebagai “Tou Luk Pia”, yaitu kue isi daging babi cincang.
Bakpia Pathok merupakan hasil akulturasi antara budaya Tiongkok dan Jawa. Bakpia masuk ke Yogyakarta sekitar tahun 1940-an, diperkenalkan oleh imigran Tionghoa bernama Kwik Sun Kwok yang membawa resep asli bakpia ke Jawa dan mulai memproduksinya secara kecil-kecilan.
Namun, karena mayoritas masyarakat Yogyakarta beragama Islam, resepnya kemudian dimodifikasi dengan mengganti isian daging babi cincang dengan kacang hijau manis, dan lemak babi dihilangkan.
Dari sinilah lahir versi lokal bakpia yang kita kenal sekarang.
Diperkirakan Kwik Sun Kwok memberikan informasi tentang resep bakpia kepada Liem Bok Sing.
Pada tahun 1948, Liem Bok Sing merintis usaha pembuatan Bakpia dengan resep yang dikembangkan sendiri.
Kemudian, pada tahun 1955 keluarga Liem Bok Sing pindah rumah ke daerah Pathuk (Jl. Aipda KS Tubun No. 75) dan melanjutkan usaha pembuatan dan penjualan bakpia.
Dari situlah Bakpia Pathuk (Pathok) dikenal sebagai nama bakpia yang dikelola oleh Liem Bok Sing mulai dikenal masyarakat Yogyakarta dan sekaligus membedakan Bakpia Tamansari yang dikelola oleh Niti Gurnito.
Kawasan Pathuk kemudian berkembang pesat sebagai sentra industri bakpia.
Banyak warga setempat yang turut merintis usaha pembuatan kue legendaris ini, hingga akhirnya Pathuk lebih dikenal sebagai pusat produksi bakpia dibandingkan kawasan Tamansari.
Dari Pathuk Menjadi Simbol Baru Kuliner Jogja
Peresmian Gapura Sentra Bakpia Pathuk menjadi langkah strategis pemerintah dalam memperkuat citra Yogyakarta sebagai kota kuliner dan budaya.
Diresmikannya Gapura Sentra Industri Bakpia Pathok menandai dimulainya babak baru bagi kawasan Bakpia Pathok sebagai destinasi kuliner sekaligus ruang publik yang inklusif dan berkelanjutan.
Gapura Sentra Industri Bakpia Pathok tersebut didesain dengan gaya arsitektur khas Jogja yang berpadu dengan sentuhan modern.
Pemerintah berharap, landmark ini tidak hanya menjadi penanda lokasi, tetapi juga simbol kebanggaan dan identitas kuliner Yogyakarta.
Penulis: Ayu Andayani Saputri
Sumber: Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Radar Jogja