Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pengamat Kuliner Sebut Kembang Waru Adalah Kue Khas Kotagede Jogja yang Sarat Nilai Sejarah, Tak Ada Salahnya Ada Inovasi Rasa

Fahmi Fahriza • Minggu, 3 Agustus 2025 | 14:00 WIB

 

 

Roti Kembang Waru sering dijadikan oleh-oleh khas dari Kotagede dan juga disajikan pada acara-acara tertentu seperti hajatan atau upacara adat.
Roti Kembang Waru sering dijadikan oleh-oleh khas dari Kotagede dan juga disajikan pada acara-acara tertentu seperti hajatan atau upacara adat.

JOGJA - Pengamat kuliner sekaligus dosen Pendidikan Tata Boga Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof Marwanti menyebut, kembang waru sebagai salah satu kue kering tradisional yang memiliki keterikatan erat dengan budaya Kotagede, Jogja. Kue berbentuk mirip bunga waru ini telah dikenal sejak masa kejayaan Mataram.

Dari literatur yang ia ketahui, dahulu kala kembang waru merupakan jajanan favorit para raja di era kerajaan Mataram.  "Pada masa itu, kue ini identik sebagai makanan kelas atas yang tidak semua orang bisa menikmatinya," ujarnya kepada Radar Jogja, Jumat (18/7).

Secara garis besar, ia menuturkan asal-usul kue ini memang dari Kotagede, kawasan yang dahulu menjadi pusat pemerintahan sekaligus terkenal sebagai sentra kerajinan perak dan budaya Mataram Islam.

Sementara terkait nama kembang waru sendiri, banyak yang mengasosiasikan bahwa hal itu diambil dari bunga waru yang banyak tumbuh di wilayah tersebut. Bentuk kue ini juga menyerupai bunga waru yang memiliki lima kelopak.

Teksturnya sendiri cenderung kering dan renyah di luar, namun sedikit lembut di dalam saat dimakan. "Warna kue biasanya cokelat keemasan atau kuning kecoklatan, dengan cita rasa manis gurih," paparnya.

Dari tinjauan budaya, Marwanti menilai kudapan ini lebih dari sekadar camilan. Kembang waru mengandung nilai budaya dan filosofi. Bentuknya yang menyerupai bunga waru melambangkan keindahan, kehangatan, dan persatuan.

"Dalam tradisi Jawa, kue ini juga menjadi simbol keikhlasan serta keramahtamahan tuan rumah kepada para tamu," tambahnya.

Hingga kini diakuinya kembang waru masih sering disajikan dalam acara-acara adat, kenduri, maupun perayaan hari besar. Namun Marwanti mengakui jumlah perajin kue ini tidak lagi sebanyak dulu, dan produksinya masih terpusat di Kotagede.

Meski demikian, kembang waru tetap menjadi salah satu oleh-oleh khas, selain beberapa oleh-oleh lain seperti bakpia dan geplak. Kue ini banyak dijual di toko oleh-oleh tradisional, pasar, maupun rumah produksi rumahan.

"Produksi kembang waru turut membantu menjaga warisan kuliner dan menjadi sumber ekonomi bagi para pembuatnya," terangnya.

Marwanti mengatakan, penting untuk terus mengembangkan dan menginovasikan kembang waru agar tetap relevan dengan selera anak muda masa kini.  Misalnya membuat varian rasa baru seperti coklat atau keju.

Ia menyampaikan inovasi dalam makanan adalah hal wajar dan justru dapat membantu mempertahankan eksistensi kuliner tradisional ini. "Itu salah satu cara atau bentuk pelestarian. Inovasi di sektor gastronomi itu umum sekali terjadi," tandasnya. (iza/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#kue kering tradisional #Kerajaan Mataram #Roti Kembang Waru #bunga waru #kotagede