Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kembang Waru, Roti Jadul  yang Masih Eksis hingga Kini,  Dulu Dijual dengan Harga Rp 25,  Sekarang Rp 2.500  Per Biji

Adib Lazwar Irkhami • Minggu, 3 Agustus 2025 | 12:05 WIB

 

Roti Kembang Waru salah satu makanan tradisional khas dari Kotagede, Yogyakarta. Roti ini terus berkembang sejak abad ke 16 an di Kotagede Yogyakarta.
Roti Kembang Waru salah satu makanan tradisional khas dari Kotagede, Yogyakarta. Roti ini terus berkembang sejak abad ke 16 an di Kotagede Yogyakarta.

 

JOGJA - Roti kembang waru menjadi salah satu kuliner zaman dulu (jadul) yang sampai saat ini masih eksis bertahan. Di Jogjakarta, ada salah satu pembuat yang masih mempertahankan resep dan cara tradisional. Yakni Roti Kembang Waru Pak dan Bu Gidah milik Basiran Basis Hargito, 81, dan istrinya  Gidah, 78.

Rumah produksi roti kembang waru ini beraada di Kampung Bumen RW 06, Kelurahan Purbayan, Kemantren Kotagede, Kota Jogja. Lokasinya memang agak sulit ditemukan, karena terletak di gang-gang sempit. Namun wangi khas kue biasanya sudah semerbak ketika memasuki gang.

Pak Bas, begitu Basiran akrab disapa mengaku sudah menekuni usaha produksi roti kembang waru sejak tahun 1983. Selama kurang lebih 42 tahun itu dia masih mempertahankan resep dan cara tradisional untuk membuat roti kembang waru.

Dari segi resep, roti kembang waru Pak Bas dan Bu Gidah sama seperti roti pada umumnya. Hanya berupa telur, gula, dan gandum. Namun yang cukup unik adalah proses pembuatannya. Roti kembang waru milik pasutri ini dimasak menggunakan oven tangkring berbahan bakar arang dengan cetakan besi delapan sisi.

Penggunaan alat tradisional itu, menurut Pak Bas, justru yang kerap menarik minat wisatawan mancanegara. Terkhusus untuk melihat proses pembuatan roti kembang waru. Namun di sisi lain, penggunaan arang kayu juga membuat tekstur dan aroma roti kembang waru miliknya lebih khas.

"Penggunaan alat tradisional ini justru yang membuat turis itu gumun (takjub)," ujar Pak Bas saar ditemui di rumahnya, Jumat (18/7).

Walaupun roti kembang waru usianya sama dengan Kerajaan Mataram Islam, Pak Bas mengaku masih banyak mendapatkan pesanan dari pelanggannya. Mayoritas digunakan untuk hidangan ketika acara hajatan atau perayaan penting lainnya.

Pembelinya pun tidak hanya dari Kotagede. Namun juga banyak yang berasal dari kabupaten lain di Jogjakarta. Misalnya dari Sleman, Bantul, hingga Gunungkidul.

Bahkan tidak jarang juga dibeli langsung oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Roti kembang waru juga bisa awet selama lima hari sehingga kerap dibeli untuk oleh-oleh. "Dulu harganya Rp 25 per biji, sekarang Rp 2.500 per biji,” jelas Pak Bas.

Namun selain kuliner tradisional, roti kembang waru diketahui juga cukup sarat filosofi. Delapan sisi yang dimiliki roti ini memiliki delapan elemen unsur alam. Yakni tanah, air, angin, api, matahari, bulan, bintang dan langit.

Delapan unsur itu menjadi lambang sifat yang yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Agar kemudian bisa mengayomi rakyatnya dan menjadi seorang pionir yang berwibawa. "Delapan kelopak itu memiliki arti delapan jalan utama atau hasta brata,” ungkap pria 81 tahun itu. (inu/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#Kotagede Jogja #Kerajaan Mataram #Roti Kembang Waru #Kuliner