Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gagal Tiwul Ayu Jadilah Gatot, Kreativitas Warga Gunungkidul Menjaga Tradisi di Tengah Cuaca Tak Menentu

Yusuf Bastiar • Sabtu, 2 Agustus 2025 | 05:00 WIB
Yulia sedang menunjukkan gaplek yang berjamur karena kehujanan dan cuaca lembab.
Yulia sedang menunjukkan gaplek yang berjamur karena kehujanan dan cuaca lembab.

 

 

 

 

GUNUNGKIDUL – Langit di atas perbukitan karst Gunungkidul Jumat (1/8) tampak cerah. Cahaya matahari memantul di antara bebatuan dan ilalang yang masih menghijau.

Setelah tiga hari berturut-turut diguyur gerimis yang lembab dan tak kunjung reda. Tapi bagi Yulia, seorang pengusaha pangan lokal dari Kalurahan Getas, Kapanewon Playen, cuaca cerah itu datang sedikit terlambat.

Tiga minggu lalu, Yulia memanen singkong dari ladang miliknya. Ia sudah membayangkan penganan manis khas Gunungkidul yang akan ia hasilkan—Tiwul Ayu, gaplek kering yang digiling, dibentuk bulat-bulat, dan menjadi pangan favorit di pasar dan rumah-rumah warga.

Tapi realita berubah saat tiga hari gerimis datang tanpa jeda. “Waktu itu singkong saya kupas langsung, terus saya jemur. Rencananya buat tiwul ayu,” ujarnya sembari menunjukkan tampah berisi gaplek di halaman rumahnya.

Gaplek yang seharusnya putih bersih kini berubah warna. Ada yang kecokelatan, bahkan ada yang menghitam. Itu disebabkan gaplek yang kehujanan, lalu jamur muncul. Dalam kondisi seperti ini, gaplek sudah tidak bisa lagi diolah menjadi tiwul.

Sebagai pedagang tiwul ayu yang dikenal warga sekitar, ini bukan sekadar kegagalan produksi, tapi hantaman terhadap sumber penghidupannya. “Udah enggak bisa dijadiin tiwul,” ucapnya, menghela napas.

Namun Yulia bukanlah orang yang mudah menyerah. Di tengah kondisi tak menentu, ia mengubah haluan. Gaplek yang tak layak jadi tiwul, bisa disulap menjadi Gatot. Yulia menyebut Gatot ini merupakan pangan khas Gunungkidul lainnya yang terbuat dari gaplek rusak atau berjamur.

“Kalau tiwul itu harus putih bersih, rasanya juga khas. Tapi kalau udah jamur ya bisa dijadikan Gatot. Untungnya harga Gatot sekarang lumayan, bisa Rp 8.000 per kilo di pasar,” jelasnya.

Perbedaan nilai ekonomis ini memang mencolok. Satu porsi Tiwul Ayu ukuran besar bisa dijual antara Rp 10.000 - Rp 15.000 dengan isi empat sampai lima butir. Untuk versi kecil, Yulia menjualnya 1.000 per buahnya.

Tapi Gatot, meskipun tidak sepopuler Tiwul Ayu buatannya, tetap jadi solusi agar hasil panen tidak terbuang sia-sia. “Ya gimana lagi, ini bagian dari hidup di desa. Kadang cuaca berpihak, kadang tidak. Tapi yang penting tetap jalan,” katanya sambil tersenyum kecil, menolak untuk menyebut musim hujan itu sebagai kemunduran.

 

Bagi Yulia, membuat Tiwul Ayu bukan sekadar bisnis rumahan. Itu adalah bagian dari identitasnya, dari warisan budaya yang ia rawat dan terus hidupkan di tengah masyarakat. “Saya jualan di rumah, warga juga udah tahu. Kalau mau tiwul yang enak, ya ke rumah saya,” ujarnya mantap.

Meski gaplek hasil panen kali ini tak bisa jadi Tiwul Ayu, Yulia sudah merencanakan langkah selanjutnya. Ia mempertimbangkan membeli singkong dari petani lain, atau menunggu panen di lahan satunya lagi. “Biar bisa bikin gaplek baru. Soalnya tiwul itu ya sumber penghidupan saya,” ucapnya.

Kisah Yulia adalah potret kecil dari ketahanan pangan lokal yang hidup dalam keseharian masyarakat. Di tengah gempuran produk instan dan pangan modern, ada perempuan di perbukitan Gunungkidul yang tetap menjaga tradisi lewat Tiwul Ayu dan Gatot, sebuah pangan sederhana yang sarat cerita.

Cuaca cerah hari ini mungkin belum bisa membalikkan keadaan sepenuhnya. Tapi di tangan Yulia, tiap tampah gaplek adalah harapan baru, dan tiap piring tiwul yang terhidang adalah bukti bahwa tradisi tidak pernah benar-benar surut. (cr1/pra)

Editor : Heru Pratomo
#tiwul ayu #Gunungkidul #lembab #cuaca tak menentu #gerimis #gatot #Gaplek #singkong