RADAR JOGJA - Di tengah deras arus modernisasi, masih ada yang setia menjaga tradisi. Sumarni, 44, perempuan asal Padukuhan Kerten, Kapanewon Imogiri, Bantul, menjadi salah satu dari sedikit orang yang masih melestarikan pembuatan ampo.
Ampo adalah camilan khas Bantul dari tanah liat yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjadi warisan budaya tak benda (WBTb). Ada dua jenis ampo, yakni ampo berukuran besar dan kecil.
Ampo berukuran besar digunakan untuk merebus daun pepaya agar rasanya tidak pahit, sedangkan ampo kecil bisa dimakan. "Ampo yang bisa dimakan itu harus melalui proses pengasapan dulu,” jelas Marni saat ditemui di rumahnya, Jumat 11 Juli 2025.
Menurutnya, jika ampo diasap baunya bisa berbeda. “Kata orang tua baunya segar,” ujarnya.
Ia mengatakan, ampo hanya bisa dibuat dari tanah liat pulen yang tidak bisa diperoleh sembarangan. Dahulu tanah diambil dari kawasan hutan di perbukitan sekitar Imogiri. Namun kini tidak bisa lagi karena alasan pelestarian lingkungan.
Baca Juga: 7 Jajanan Ringan Wajib Coba di Kampoeng Seafood: Cita Rasa Laut dalam Camilan yang Menggoda
“Kalau dulu ambilnya di hutan, tapi sekarang nggak boleh. Takut rusak tanahnya, nanti pohon bisa tumbang,” katanya.
Ia sekarang memesan tanah untuk membuatan ampo dari luar Imogiri. Meski terdengar unik, ampo buatannya masih banyak diminati, terutama oleh para pedagang jamu di Pasar Beringharjo, Pasar Kotagede, Pasar Bantul, dan pembeli setia dari Cilacap. “Orang yang dari Cilacap satu bulan ke sini pesan ampo yang kecil,” ujarnya.
Walaupun usaha pembuatan amponya sudah berjalan berpuluh-tahun, Marni yang melanjutkan usaha ibunya ini tak memiliki kios tetap. Ibunya hanya menjajakan dagangannya di pinggir jalan dan menitipkan ampo ke beberapa pedagang.
Baca Juga: Suran Mbah Demang Terdaftar sebagai WBTb sejak 2016, Tradisi Tokoh Berjasa Masyarakat Banyuraden, Gamping, Sleman
Proses pembuatan ampo pun cukup mudah. Tanah liat direndam semalaman, lalu dipadatkan secara manual dengan dipukul-pukul hingga menjadi bulatan besar. Setelah mengering semalaman, tanah baru bisa diiris tipis untuk dijemur.
Dalam sehari, ia bisa memproduksi dua karung besar, masing-masing berisi sekitar 40 kg ampo. Sedangkan dalam satu bulan sekitar 160 kg ampo bisa diproduksi. Ampo berukuran besar dijual Rp 2.500 per kg, sedangkan ampo kecil siap konsumsi bisa Rp 8.000 per kg.
“Kalau lagi banyak, sehari bisa bawa dua sampai empat karung. Tapi tergantung badan, kadang capek juga,” katanya.
Meski keuntungannya tidak besar, Marni tetap bersyukur. Dalam sebulan ia bisa mengantongi sekitar satu juta rupiah. “Lumayan buat kebutuhan sehari-hari,” ucapnya.
Di kampungnya, ada tiga orang yang masih membuat ampo. Seiring waktu, profesi ini makin langka. Namun bagi Marni, menjaga warisan ini tetap hidup jauh lebih penting daripada sekadar mencari keuntungan. "Sayang kalau nggak dilanjutkan,” tandasnya. (cr2/laz)