Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Legomoro Makanan Khas Kotagede Jogja, Dulu Jadi Makanan Eksklusif, Sekarang Menjadi Klangenan Semua Kalangan

Agung Dwi Prakoso • Sabtu, 3 Mei 2025 | 00:29 WIB
Makanan tradisional khas Kotagede legomoro yang diproduksi Legomoro Traditional Food di Kotagede, Kamis (1/5/2025).
Makanan tradisional khas Kotagede legomoro yang diproduksi Legomoro Traditional Food di Kotagede, Kamis (1/5/2025).

JOGJA - Legomoro merupakan makanan tradisional khas Kotagede, Jogja yang keberadaannya masih eksis hingga sekarang.

Awalnya makanan tersebut tidak diperjual-belikan secara umum.

Digunakan hanya sebagai hantaran pernikahan atau acara tertentu. 

"Sebelum dikenal luas, produksi Legomoro biasanya hanya dipakai untuk hantaran ketika akan melamar seorang," ujar pemilik Legomoro Traditional Food Kotagede Iwan Setiyawan saat ditemui di rumah produksinya, Kamis (1/5/2025). 

Dalam tradisi yang berkembang di Kotagede dulu, makanan legomoro juga sebagai tanda seseorang diterima lamarannya.

Calon yang dilamar biasanya akan menerima legomoro yang diberikan.

Setelah keluarga setuju, mereka akan memberikan hantaran legomoro balik, sebagai jawaban. 

"Kalau legomoro tidak diberi kembali artinya keluarga yang dilamar masih berpikir," kelakarnya. 

Rumah produksi Legomoro Tradisional Food berada di Jalan Mentaok Raya No.15 A, Purbayan, Kotagede, Jogja.

Usaha tersebut ia rintis sejak tahun 2002.

Ide tersebut berangkat dari usaha katering yang dimiliki orang tuanya. 

"Bukan mewarisi sepenuhnya, tapi kami membangun kembali," tuturnya. 

Orangtua Iwan dulu hanya membuat legomoro ketika ada orang yang pesan.

Kebanyakan untuk hidangan atau hantaran di acara pernikahan.

Melihat peluang tersebut, Iwan dan istrinya kemudian berniat menjual produk ibunya secara reguler atau harian. 

"Distribusi awal ke toko-toko di sekitar Jogja, mulai harga Rp 900 rupiah," bebernya. 

Usahanya berjalan mulus.

Tak berselang lama setelah diproduksi secara reguler, Iwan dibanjiri orderan.

Saat itu produksi per hari bisa mencapai ratusan. 

"Kemungkinan karena orang-orang penasaran, karena makanan tersebut sebelumnya tidak dijual secara reguler jadi sulit untuk mendapatkannya," terangnya. 

Di masa tersebut, Iwan sampai mempunyai enam karyawan dan dua tenaga bantuan untuk memproduksi legomoro di rumahnya.

Legomoro menurutnya sama dengan makanan lemper.

Terbuat dari ketan yang di dalamnya diberi isian daging sapi ataupun ayam. 

"Sama dengan lemper, bedanya kemasan dan bentuknya saja," jelasnya. 

Selain mengenang perjuangan untuk memproduksi legomoro secara reguler.

Baginya ingatan tentang legomoro juga dekat dengan sosok ibunya.

Betapa tidak, hanya selang seminggu setelah ia bisa memproduksi legomoro secara reguler.

Ibunya tutup usia. 

"Nah ini itu termasuk peninggalan dan juga persembahan untuk ibu saya," terangnya. 

Iwan masih eksis emproduksi legomoro.

Bidikan pasarnya meluas.

Tak hanya di lokal Jogja tapi juga luar daerah bahkan luar negeri.

Semula harganya Rp 900 rupiah saat ini sekitar Rp 5.500 rupiah. 

"Orang Jogja ke luar negeri bawa legomoro untuk oleh-oleh di sana itu sering," ujarnya. 

Legomoro yang ia produksi sudah sampai ke Australia, Jepang, Malyasia, Hongkong, Singapura dan Amerika.

Untuk memenuhi pasar tersbeut, ia membuat trobosan dengan legomoro frozen yang bisa bertahan sekitar satu bulan di kulkas. (oso) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Legomoro #Klangenan #makanan khas #kotagede