RADAR JOGJA - Jepang dikenal bukan hanya karena budaya dan teknologinya, tapi juga karena tradisi minumnya yang khas dan sarat makna. Teh telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jepang selama berabad-abad. Lebih dari sekadar minuman, teh di Jepang mencerminkan filosofi, ketenangan, dan kesederhanaan hidup.
Jika kamu sudah tidak asing dengan ocha atau teh yang biasa ditemui di restoran jepang, ternyata kata "ocha" (お茶) bukanlah merujuk pada suatu jenis teh tertentu. Tapi secara umum, jika orang Jepang menyebut "ocha," mereka biasanya merujuk pada teh hijau, terutama sencha, karena itu adalah teh paling umum yang dikonsumsi sehari-hari. Namun, istilah ini juga bisa mencakup semua jenis teh yang sebenarnya bukan berasal dari daun teh. Berikut adalah beberapa jenis teh Jepang yang paling terkenal dan patut untuk kamu ketahui.
1. Matcha (抹茶)
Matcha mungkin adalah teh Jepang paling populer di dunia saat ini. Teh ini berbentuk bubuk halus berwarna hijau cerah yang berasal dari daun teh yang ditanam secara khusus dan diproses dengan hati-hati. Matcha digunakan dalam upacara minum teh tradisional Jepang dan memiliki rasa yang khas—pahit namun lembut dengan aroma “umami” yang dalam. Karena dikonsumsi seluruh daun dalam bentuk bubuk, matcha juga mengandung antioksidan lebih tinggi dibandingkan jenis teh lainnya.
2. Sencha (煎茶)
Sencha adalah teh hijau paling umum yang dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat Jepang. Daun teh ini diseduh dalam air panas dan memiliki rasa segar, sedikit pahit, dan ringan. Kualitas sencha bisa sangat bervariasi tergantung musim panen, jenis daun, dan proses pengolahannya. Teh ini biasanya disajikan saat menjamu tamu atau sebagai teman makan siang.
3. Genmaicha (玄米茶)
Genmaicha merupakan perpaduan unik antara teh hijau (biasanya sencha atau bancha) dan beras coklat panggang. Beras panggang ini memberi aroma khas seperti popcorn dan rasa gurih yang ringan. Genmaicha dulunya dikenal sebagai teh rakyat karena harganya terjangkau, tetapi kini justru menjadi favorit banyak orang karena rasanya yang menenangkan dan cocok untuk semua kalangan.
4. Hojicha (ほうじ茶)
Berbeda dari teh hijau lainnya, hojicha dibuat dari daun teh yang dipanggang dalam suhu tinggi. Proses ini memberikan warna coklat kemerahan dan aroma panggang yang khas, serta mengurangi kadar kafein secara signifikan. Hojicha sangat cocok diminum di malam hari atau oleh anak-anak karena lebih ringan di lambung.
5. Gyokuro (玉露)
Gyokuro adalah salah satu teh hijau Jepang paling premium dan berharga mahal. Daunnya ditanam dengan cara ditutupi selama beberapa minggu sebelum dipanen, sehingga menghasilkan rasa yang sangat lembut, manis, dan kaya umami. Proses penyajiannya juga membutuhkan perhatian khusus, biasanya menggunakan air dengan suhu lebih rendah agar rasa halusnya tidak rusak.
6. Bancha (番茶)
Bancha merupakan versi “kasual” dari sencha yang dipetik dari daun yang lebih tua dan lebih besar. Rasanya tidak sekuat sencha dan memiliki aroma yang lebih bersahaja. Karena kadar kafeinnya rendah, bancha sering dijadikan pilihan untuk dikonsumsi di malam hari atau oleh orang yang sensitif terhadap kafein.
7. Kukicha (茎茶)
Kukicha, atau disebut juga twig tea, terbuat dari batang dan tangkai daun teh, bukan hanya daunnya. Rasanya ringan, agak manis dan menyegarkan. Kukicha sangat cocok sebagai teman relaksasi dan dikenal memiliki kandungan kafein yang lebih rendah dibandingkan teh daun lainnya.
8. Mugicha (麦茶)
Mugicha berbeda dari teh-teh sebelumnya karena tidak terbuat dari daun teh, melainkan dari gandum barley panggang. Teh ini biasanya disajikan dingin, terutama di musim panas. Mugicha bebas kafein dan memiliki rasa panggang yang lembut serta efek menyegarkan, sangat populer di kalangan anak-anak dan orang tua.
(Adinda Tyas Ramadhani)
Editor : Iwa Ikhwanudin