Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Unik! Jajanan Khas Jetis Lebih Padat dan Gurih: Lemper Benguk Mulai Menjadi Ikon Kuliner Gunungkidul

Andi May • Minggu, 2 Maret 2025 | 17:00 WIB

Proses pembuatan Lemper Benguk, jajanan khas Kalurahan Jetis, Saptosari, Gunungkidul.
Proses pembuatan Lemper Benguk, jajanan khas Kalurahan Jetis, Saptosari, Gunungkidul.


GUNUNGKIDUL - Lemper umumnya terbuat dari beras ketan, namun berbeda dengan lemper benguk khas Kalurahan Jetis, Kapanewon Saptosari, Gunungkidul, yang menggunakan koro benguk, sejenis kacang-kacangan yang banyak dibudidayakan di wilayah tersebut.

Dengan tekstur lebih padat dan rasa gurih, lemper ini diisi dengan abon sapi atau ayam, menciptakan kombinasi rasa yang unik dan menjadikannya ikon kuliner khas Jetis.

Lurah Jetis Agus Susanto menjelaskan, lemper benguk awalnya hanyalah makanan rumahan yang dibuat secara turun-temurun oleh masyarakat.

Namun, melihat potensi bahan baku yang melimpah dan belum banyak dimanfaatkan, akhirnya warga mulai mengembangkannya menjadi produk kuliner khas.

“Koro benguk itu sebenarnya tanaman yang mudah dibudidayakan dan banyak tumbuh di sini. Biasanya hanya diolah menjadi tempe atau keripik. Tapi kemudian ada ide untuk membuatnya menjadi lemper, yang ternyata hasilnya enak dan punya keunikan tersendiri,” kata Agus kepada Radar Jogja, Jumat (28/2/2025).

Menurutnya, lemper benguk belum banyak dikenal di luar Gunungkidul, bahkan menurut catatan Dinas Kebudayaan, jajanan ini belum ditemukan di daerah lain.

Inilah yang mendorong Bumkal Sembulur, badan usaha milik Kalurahan Jetis, untuk mengangkat makanan ini sebagai ikon kuliner daerah.

“Kami ingin memperkenalkan lemper benguk lebih luas. Harapannya, ini tidak hanya menjadi jajanan khas, tetapi juga bisa mendukung perekonomian warga, karena dari pertanian hingga produksi, semuanya melibatkan masyarakat lokal,” tambahnya.

Lemper benguk diproduksi oleh kelompok masyarakat di Padukuhan Dondong dengan sistem pre-order karena makanan basah ini tidak dapat bertahan lama.

Namun, dalam produksi besar, mereka mampu membuat hingga 200–300 potong per hari.

Proses pembuatannya cukup panjang, mulai dari memanen koro benguk yang sudah tua, mengupas bijinya, merendamnya agar lebih lunak, hingga mengukus, menghaluskan, dan mengolahnya menjadi adonan lemper.

“Kemasannya tetap menggunakan daun pisang seperti lemper pada umumnya. Namun, yang membuatnya unik adalah bahan dasarnya yang berasal dari koro benguk, bukan beras ketan. Ini yang membuat rasa dan teksturnya berbeda dari lemper biasa,” jelasnya.

Baca Juga: Bojan Hodak Pertanyakan Ketegasan Komdis PSSI, Beckam di Sanksi, Rafinha dari PSIM Jogja Tidak

Bumkal Sembulur memasarkan produk ini melalui berbagai media promosi, seperti even UMKM, festival kuliner, hingga pemasaran digital.

Selain itu, lemper benguk juga ditawarkan dalam paket wisata edukasi UMKM Jetis, di mana wisatawan dapat mencicipi dan melihat langsung proses pembuatan lemper.

“Kami punya paket wisata jeep yang bisa menjelajahi perbukitan dan pantai di sekitar Jetis. Wisatawan bisa request jalur, termasuk menyusuri pantai-pantai tersembunyi seperti Midodaren dan Pantai Ngeden. Dalam perjalanan, mereka bisa singgah ke rumah produksi lemper benguk dan melihat langsung proses pembuatannya,” tuturnya.

Meskipun sudah mulai ada pesanan dari luar Gunungkidul, Agus mengakui, masih perlu upaya lebih lanjut untuk memperkenalkan jajanan ini secara lebih masif.

“Kami berharap lemper benguk bisa semakin dikenal, bahkan hingga ke luar Daerah Istimewa Jogjakarta. Jika pemasarannya semakin luas, ini bisa menjadi peluang besar bagi warga Jetis, baik dalam pertanian benguk maupun produksinya.” harapnya. (ndi/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#kuliner khas gunungkidul #ikon kuliner #Kuliner #Lemper benguk #jajanan unik