Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengintip Pembuatan Kue Moho di Magelang, Jadi Pelengkap Kudapan saat Perayaan Imlek

Naila Nihayah • Rabu, 22 Januari 2025 | 02:43 WIB

 

 

 

TRADISIONAL: Proses pembuatan kue moho masih terbilang manual. Kue ini banyak diburu warga Tionghoa menjelang Hari Raya Imlek.
TRADISIONAL: Proses pembuatan kue moho masih terbilang manual. Kue ini banyak diburu warga Tionghoa menjelang Hari Raya Imlek.

 

MAGELANG - Dari banyaknya sesajen saat perayaan Hari Raya Imlek, kue moho menjadi salah satu kudapan yang menarik perhatian. Kue ini merupakan salah satu kuliner yang diadaptasi dari kue yang populer di kalangan etnis Tionghoa. Menjelang Imlek, industri rumahan pembuat kue moho di Magelang pun mendapat banyak pesanan.

Siang itu, aroma tape bercampur tepung terigu dan gula yang diendapkan, menguar di sebuah rumah di Dusun Dawung, Banjarnegoro, Mertoyudan. Adonan itu dibiarkan mengembang di dalam tempat khusus. Dua orang tampak sibuk membuat kue moho. Satu orang lainnya berjibaku membuat api dan memasukkan beberapa buah kayu.

Tangan renta milik Suradi masih cekatan untuk mencetak kue moho. Ia terampil saat mencampur adonan berwarna krem dan merah muda. Dengan lincahnya dia memotong adonan itu secara manual. Sementara sang anak, Darmanto selalu siaga untuk meletakkan adonan yang sudah dipotong ke dalam sebuah tampah, ditata rapi, lalu dikukus.

Kegiatan itu dilakukan secara berulang hingga adonan habis. Setelah dikukus selama tiga menit, kue moho akan didinginkan. Supaya mereka dapat membungkusnya tanpa meninggalkan uap di dalam plastik. Untuk proses membungkus kue moho, Suradi dibantu menantu dan cucunya. Dia memang memberdayakan seluruh anggota keluarga untuk membantu.

Kue moho merupakan makanan tradisional khas Solo saat Hari Raya Imlek. Seiring berjalannya waktu, kue itu mulai dikenal dan diproduksi di daerah lain seperti Magelang. Kue yang mirip seperti bolu kukus ini biasanya menjadi kudapan dan pelengkap sesajen di kelenteng. Meski identik dengan kue Imlek, kue ini juga dapat dijumpai pada hari-hari biasa.

TRADISIONAL: Proses pembuatan kue moho masih terbilang manual. Kue ini banyak diburu warga Tionghoa menjelang Hari Raya Imlek.
TRADISIONAL: Proses pembuatan kue moho masih terbilang manual. Kue ini banyak diburu warga Tionghoa menjelang Hari Raya Imlek.

Suradi bercerita sudah membuat kue moho sejak tahun 1990-an. Saat itu, dirinya belajar dari sang kakak. Waktu itu sang kakak bekerja di salah satu rumah milik warga etnis Tionghoa. Lambat laun dia melihat peluang bisnis dari pembuatan kue moho. Karena itu, dia mencoba peruntungan dengan menjual kue moho di pasar.

Ternyata, warga meresponsnya dengan baik dan laku di pasaran, terutama saat Hari Raya Imlek. Sekitar 2002, ia mulai menjalankan usahanya dengan tekun. "Alhamdulillah laku dan saya lanjutkan sampai sekarang," ujarnya sembari memotong adonan Selasa (21/1).

Seperti kue moho pada umumnya, ia juga menggunakan bahan baku tape, tepung terigu, dan gula. Proses pembuatannya, tape dan tepung terigu dicampur dengan air dan diendapkan selama empat jam. Setelah mengembang, barulah diberi gula. Lalu, Suradi akan memotongnya keil-kecil dan dikukus selama tiga menit. Saat proses pengukusan, apinya harus besar dan dikukus dengan air yang mendidih agar mengembang dengan sempurna.

Setiap hari, Suradi dibantu anak-anak dan cucunya. Mulai dari proses membuat adonan hingga pengemasan dan pendistribusian. Meski tergolong kue jadul, kudapan ini masih diminati warga, terutama etis Tionghoa. Mereka kerap menggunakannya sebagai pelengkap sesajen saat sembahyang di kelenteng.

Kue moho yang diproduksi, hanya percampuran antara warga krem dan merah muda. Suradi pernah membuat warna lain, tapi tidak laku dipasaran. Sebab, kue moho memang identik dengan warna tersebut.

Kue moho ini hanya tahan selama dua hari sejak dibuat. Karena tidak memakai bahan pengawet. "Identiknya seperti itu. Dulu pernah buat warna hijau, tapi nggak laku meskipun bahan dan rasanya sama," kata kakek 65 tahun itu.

Biasanya, kue moho miliknya dipasarkan di pasar wilayah Magelang. Tapi peminatnya banyak yang berasal dari Jogja dan Temanggung. Ada dua jenis kue moho yang dijual, yakni berukuran memanjang dan berbentuk bunga. Masing-masing dijual Rp 500 hingga Rp 1.000, tergantung ukuran dari kue itu.

Dia mulai membuat kue moho sekitar pukul 14.30 hingga 20.00. Setelah semua kue moho dibungkus, sang anak akan mengirimnya ke Temanggung dan pasar-pasar di wilayah Magelang.

"Kalau Imlek gini, lumayan ada peningkatan. Ada pesanan untuk perorangan maupun kelenteng," timpal Darmanto.

Wakil Ketua Harian Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Liong Hok Bio Kota Magelang Gunawan menambahkan, umat Tri Dharma biasanya menggunakan makanan manis saat sembahyang. Seperti kue keranjang, kue cithok, dan kue moho. Kue-kue ini kerap digunakan untuk peribadatan dan memiliki folosofi masing-masing.

"Kue cithok bentuknya seperti kura-kura yang bermakna panjang umur. Sedangkan kue moho yang bentuknya mekar bermakna rezekinya semakin berkembang," paparnya. (aya/laz)

 

Editor : Heru Pratomo
#kue moho #bolu kukus #Tionghoa #Magelang #Solo #Mertoyudan #kelenteng #kue #sembahyang #hari raya imlek #adonan #TITD Liong Hok Bio Kota Magelang