MUNGKID - Desa Mejing, Candimulyo, Magelang masyhur dengan industri rumahan pembuatan tahu dan tempe. Rata-rata produknya diminati hingga luar daerah. Seperti Semarang, Demak, Boyolali, Sragen, bahkan DIY. Hingga saat ini, ada sekitar 150 industri rumahan yang masih eksis dan berupaya mempertahankan kualitasnya.
Di sepanjang perjalanan menuju Desa Mejing pun, terdapat banyak industri rumahan pembuatan tahu dan tempe di tepi jalan. Asap yang keluar dari cerobong tampak membumbung ke langit. Saat melintas, aroma pekat proses pengolahan tahu menusuk indra penciuman. Ditambah dengan bau ampas tahu yang khas.
Kepala Dusun Mejing 1 Mahmudi menjelaskan, banyaknya industri rumahan tahu di desanya bermula ketika ada dua warga dari Borobudur yang mengajari sejumlah orang untuk membuat tahu. "Itu sekitar tahun 1955-an. Ternyata orang sini tertarik. Awalnya memang hanya ada satu home industry, lama-kelamaan berkembang jadi banyak," ujarnya, Jumat (4/10/2024).
Begitu melihat peluangnya cukup bagus, banyak warga yang berani mengembangkan usaha tahu dan tempe. Namun, upaya itu diawali dari menjadi seorang pekerja agar paham dan mengetahui seluruh proses pembuatannya. "Biasanya diawali dengan bekerja dulu di salah satu rumah produksi. Beberapa tahun setelahnya baru membuka (usaha, Red) sendiri," sebutnya.
Namun saat Covid-19, banyak perajin tahu yang gulung tikar. Mereka kesulitan mempertahankan usahanya karena permintaan menurun drastis. Beruntung, masih ada yang mampu bertahan meski harus dengan cara tertatih-tatih dan masih eksis hingga sekarang.
Saat ini, ada sekitar 150 industri rumahan tahu yang tersebar di delapan dusun. Dia memperkirakan, masih ada industri rumahan tahu lain yang belum terdaftar. Sebab sudah ada organisasi yang menaungi para perajin tahu dan tempe di Desa Mejing.
Mahmudi menyebut, tahu yang diproduksi oleh warga Desa Mejing, sama seperti produk di daerah lain. Tidak ada perbedaannya, baik rasa maupun ukuran. Hanya saja, kualitas air yang digunakan dalam pengolahannya, berbeda. "Untuk pengolahannya, air yang digunakan langsung dari sumber mata air di Pisangan," katanya.
Keberadaan sentra perajin tahu itu mampu berkontribusi untuk menekan angka pengangguran di desa tersebut dan sekitarnya. Sebab, masing-masing praktis membutuhkan banyak pekerja untuk memproduksi tahu maupun tempe. Beruntung, anak-anak muda setempat tidak segan untuk menjadi pekerjanya.
Itu berarti, regenerasi perajin tahu dan tempe di Desa Mejing, masih ada. Mahmudi menyebut, anak-anak muda tidak malu untuk menggeluti usaha tersebut. "Daripada nyari kerja di luar (daerah, Red), para remaja di sini memilih untuk mengembangkan usaha tahu dan tempe. Jadi, memang regenerasinya berjalan baik. Alhamdulillah-nya mereka nggak wegah (malas)," lontarnya. (aya/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita