Konon, hidangan ini menjadi salah satu warisan Wilwatikta, kerajaan yang mendahului Majapahit.
Menurut sejarah, konon katanya abdi dalem Wilwatikta mengambil beberapa ikan wader yang ada pada kolam Segaran.
Setelah diolah menjadi sebuah masakan, lalu wader ini hidangan tersebut disajikan kepada para bangsawan.
Dilansir dari Radar Majapahit, Menurut Prasasti Masahar (930 M) yang ditemukan di Desa Gemekan, Kecamatan Sooko, Mojokerto, hidangan yang disebut "dendeng tawar" dan "dendeng asin" kemungkinan besar merujuk pada sambel wader.
Prasasti ini juga menyebutkan bahwa hidangan tersebut disajikan dalam upacara sima, menunjukkan keistimewaannya di masa lampau.
Lebih dari sekadar lezat, sambel wader memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi.
Sajian ini menjadi bukti kekayaan kuliner nusantara dan peninggalan berharga dari peradaban Majapahit.
Kini, sambel wader tak hanya dinikmati di Mojokerto, tapi juga telah mendunia.
Upaya Pemkab Mojokerto dalam mem-branding dan menggelar festival seperti Majafest telah membawa sambel wader ke pentas nasional dan internasional, bahkan memecahkan rekor MURI.
Menikmati sambel wader bukan hanya memanjakan lidah, tapi juga menapaki jejak sejarah dan budaya leluhur.
Warisan kuliner ini patut dilestarikan dan dibanggakan sebagai identitas bangsa.