RADAR JOGJA - Masalah kesehatan mental di kalangan pria Indonesia semakin menjadi perhatian serius.
Ungkapan “Laki-laki Tidak Bercerita” yang marak di media sosial menunjukkan norma yang mengharuskan pria untuk menyimpan masalah mereka sendiri, mencerminkan fenomena toxic masculinity yang berbahaya bagi kesehatan jiwa pria.
Norma ini juga sejalan dengan budaya patriarki yang masih melekat kuat dalam sebagian masyarakat Indonesia.
Pria yang terperangkap dalam pola pikir toxic masculinity sering menghadapi masalah kesehatan mental serius, seperti kecemasan, depresi, dan bahkan peningkatan risiko bunuh diri.
Menurut data American Psychological Association, pria cenderung menyembunyikan emosi dan enggan mencari bantuan ketika menghadapi kesulitan, yang hanya memperburuk kondisi mental mereka.
Di Indonesia, sebagian besar kasus bunuh diri juga melibatkan pria. Data Daily Operation Reporting System Polri menunjukkan bahwa dari Januari hingga Agustus 2024, 714 pria melakukan bunuh diri, mencakup 76,94 persen dari total kasus.
Kasus bunuh diri sering kali dipicu oleh faktor ekonomi, dengan persentase 31,91 persen.
Metode yang paling umum adalah gantung diri, mencakup 85,54 persen dari total kasus.
Pelaku mayoritas berusia di atas 40 tahun, tetapi angka yang mengkhawatirkan juga tercatat pada individu di bawah 20 tahun, dengan 84 orang dalam kategori ini.
Kasus-kasus ini menunjukkan betapa pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental dan pengaruh faktor sosial-ekonomi terhadap keputusan tragis yang diambil individu.
Dengan meningkatnya angka bunuh diri, kesadaran akan pentingnya dukungan mental perlu ditingkatkan, baik oleh masyarakat maupun pemerintah, guna menyediakan sumber daya yang dapat membantu mencegahnya.
Seseorang yang terjebak dalam toxic masculinity sering kali memiliki empati rendah dan rentan melakukan tindakan berisiko yang merugikan diri sendiri.
Pria yang merasa tertekan untuk memenuhi standar maskulinitas tradisional cenderung mengabaikan kesehatan fisik mereka, yang bisa berujung pada penyakit serius seperti jantung dan insomnia.
Pola pikir ini juga menciptakan tekanan yang membuat pria berusaha tampil kuat dan mandiri, enggan berbagi perasaan atau mencari dukungan.
Akibatnya, kumpulan emosi negatif yang tersimpan bisa menimbulkan stres kronis, kecemasan, hingga depresi.
Dalam jangka panjang, toxic masculinity tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga memperkuat siklus kekerasan dan ketidaksetaraan gender di masyarakat.
Pria yang terjebak dalam pola ini mungkin melampiaskan frustrasi mereka pada pasangan atau anak-anak, menciptakan lingkungan keluarga yang kurang sehat.
Oleh karena itu, mengatasi toxic masculinity penting dilakukan melalui edukasi masyarakat tentang pentingnya mengekspresikan emosi secara sehat.
Mendorong pria untuk mencari bantuan saat dibutuhkan dapat membantu mengubah norma sosial ini.
Dengan begitu, kesehatan mental pria akan meningkat, menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan suportif bagi semua gender. (Latri Rastha Dhanastri)
Editor : Winda Atika Ira Puspita