Dampak KDRT di Depan Anak terhadap Kesehatan Mental dan Tumbuh Kembang

Syofiyanti Ningsi Dg Parany • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 09:05 WIB
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dapat memengaruhi kesehatan mental dan tumbuh kembang anak, bahkan hingga dewasa. (Dok. Halodoc)
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dapat memengaruhi kesehatan mental dan tumbuh kembang anak, bahkan hingga dewasa. (Dok. Halodoc)

 

RADAR JOGJA - Rumah seharusnya menjadi tempat anak merasa aman dan nyaman.

Namun, ketika rumah dipenuhi teriakan, pertengkaran, hingga kekerasan antara orang tua, anak bisa ikut merasakan dampaknya.

Meski tidak menjadi korban secara langsung, menyaksikan atau mendengar kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dapat memengaruhi kesehatan mental dan tumbuh kembang anak, bahkan hingga dewasa.

Anak tidak harus melihat kekerasan secara langsung untuk mengalami tekanan psikologis.

Baca Juga: 9 Cara Menata Ruang Tamu agar Harmonis Menurut Feng Shui

Mendengar pertengkaran, melihat orang tua terluka, atau hidup dalam suasana rumah yang penuh ketegangan juga dapat membuat anak merasa takut dan tidak aman.

Pengalaman tersebut bisa memengaruhi cara anak memahami emosi, membangun hubungan, dan menghadapi konflik.

5 Dampak KDRT terhadap Anak

1. Mudah takut dan cemas

Anak yang sering menyaksikan kekerasan dapat merasa khawatir pertengkaran akan kembali terjadi.

Akibatnya, mereka bisa mengalami sulit tidur, mimpi buruk, atau ketakutan berlebihan terhadap suara keras.

Baca Juga: Vitinha Berharap Konflik Ronaldo dan Jesus Segera Usai dan Segera Kembali ke Timnas Portugal

2. Trauma dan depresi

Pengalaman kekerasan dapat memicu trauma, membuat anak mudah terkejut, menarik diri, atau terus mengingat kejadian buruk.

Sebagian anak juga merasa bersalah dan menganggap dirinya sebagai penyebab pertengkaran orang tua.

3. Perubahan perilaku

Ada anak yang menjadi mudah marah dan agresif, sementara lainnya justru pendiam dan tertutup.

Perubahan ini bisa menjadi cara anak menghadapi situasi yang membuatnya tertekan.

Baca Juga: Mobil Tesla Roadster Melompat, Berputar di Udara, lalu Mendarat Sempurna, Elon Musk Bikin Kejutan

4. Kesulitan belajar dan bersosialisasi

Rasa takut dan stres dapat mengganggu konsentrasi anak di sekolah.

Mereka juga mungkin kesulitan mempercayai orang lain, membangun pertemanan, atau merasa nyaman di lingkungan sosial.

5. Berisiko menganggap kekerasan sebagai hal wajar

Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan berisiko meniru pola tersebut atau menerima perlakuan buruk dalam hubungan saat dewasa.

Meski demikian, risiko ini bukan kepastian. Dukungan yang tepat dapat membantu anak membangun hubungan yang sehat.

Baca Juga: Candaan Dembele setelah PSG Taklukkan Manchester City: Mungkin Saya akan Meminta Libur Lagi

Orang tua dan orang terdekat perlu memperhatikan perubahan perilaku anak, seperti:

•    Menjadi lebih pendiam atau mudah marah.
•    Mengalami mimpi buruk dan sulit tidur.
•    Takut berlebihan atau mudah terkejut.
•    Prestasi sekolah menurun.
•    Sering mengeluh sakit tanpa penyebab yang jelas.
•    Meniru perilaku kekerasan saat bermain.

Tanda-tanda tersebut tidak selalu berarti anak mengalami trauma akibat KDRT.

Namun, perubahan yang menetap perlu mendapat perhatian.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah menghentikan kekerasan dan memastikan keselamatan anak serta korban.

Baca Juga: Update Merapi Terkini, BPPTKG Catat 3 Kali Guguran Lava ke Arah Kali Boyong

Setelah itu, orang tua atau orang dewasa yang dipercaya dapat membantu melalui beberapa langkah:

•    Dengarkan anak. Berikan kesempatan untuk bercerita tanpa menyalahkan atau menghakimi.
•    Yakinkan bahwa itu bukan salahnya. Anak perlu tahu bahwa konflik dan kekerasan orang tua bukan tanggung jawab mereka.
•    Ciptakan lingkungan yang aman. Rutinitas yang stabil dan dukungan emosional membantu anak merasa lebih tenang.
•    Cari bantuan profesional. Psikolog atau tenaga kesehatan mental dapat membantu anak mengatasi tekanan dan trauma.
•    Libatkan orang dewasa tepercaya. Keluarga, guru, dan lingkungan sekitar dapat menjadi sumber dukungan.

Baca Juga: Hari Pangan Sedunia 16 Oktober: Dari Keringat Petani Hingga Bijak Mengolah Makanan

KDRT bukan hanya menyakiti pasangan, tetapi juga dapat meninggalkan luka psikologis pada anak yang menyaksikannya.

Dampaknya bisa terlihat melalui perubahan emosi, perilaku, prestasi belajar, hingga cara anak membangun hubungan saat dewasa.

Meski begitu, anak tetap memiliki kesempatan untuk pulih.

Lingkungan yang aman, dukungan emosional, dan pendampingan profesional dapat membantu mereka melewati pengalaman tersebut.

Karena itu, menghentikan kekerasan dan melindungi anak merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan mental serta masa depan mereka.

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
dampak KDRT tumbuh kembang anak kesehatan mental kdrt