Meski Kemarau, Kasus Leptispirosis Masih Jadi Ancaman: Dinkes Gunungkidul Imbau Risiko Penularan

Dzika Fajar • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 20:16 WIB
LAYANAN: Aktivitas pelayanan berlangsung di Puskesmas Wonosari 2, Gunungkidul beberapa waktu lalu.  (Dzika Fajar/Radar Jogja)
LAYANAN: Aktivitas pelayanan berlangsung di Puskesmas Wonosari 2, Gunungkidul beberapa waktu lalu.  (Dzika Fajar/Radar Jogja)

GUNUNGKIDUL – Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul mencatat 32 kasus leptospirosis sepanjang Januari-Juli 2026. Meski memasuki musim kemarau, masyarakat diingkatkan tetap waspada terhadap risiko penularan penyakit akibat bakteri Leptospira yang dapat menyebar melalui lingkungan terkontaminasi urine hewan, terutama tikus. 

Programmer Penyakit Menular Zoonosis Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Gunungkidul Eko Mujiarto mengatakan, kasus leptospirosis paling banyak ditemukan pada Maret dengan 16 kasus. Disusul Februari sebanyak sembilan kasus, Mei lima kasus, dan Januari dua kasus.

Sementara itu, tidak ditemukan kasus baru pada April, Juni, Juli, Agustus hingga September. Meski tren kasus melandai, masyarakat diminta tidak lengah karena potensi penularan tetap ada selama musim kemarau. “Tidak menutup kemungkinan di musim kemarau,” katanya, Senin (12/10/2026).

Baca Juga: Baru Raih 1 Poin dari Empat Laga, Kritik dan Desakan Suporter ke PSIM Jogja Kian Menguat

Dia menjelaskan, leptospirosis menular melalui kontak dengan air, tanah, atau lingkungan yang terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri, terutama tikus. Karena itu, risiko penularan tidak hanya muncul saat musim hujan, tetapi juga ketika masyarakat beraktivitas di lingkungan yang berpotensi tercemar.

Di Gunungkidul, aktivitas pertanian memang cenderung berkurang selama musim kemarau. Namun, sebagian warga masih mencari pakan ternak hingga ke luar daerah.

Eko mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala leptospirosis, seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot terutama pada betis dan punggung, mata kemerahan, mual hingga muntah. Jika tidak segera ditangani, penyakit ini dapat berkembang menjadi kondisi berat yang ditandai kulit dan mata menguning, gangguan ginjal, perdarahan hingga gangguan fungsi hati.

Baca Juga: Winger Asing PSS Sleman Hiromu Tanaka Sudah Punya Firasat Bisa Cetak Gol ke Gawang PSM Makassar

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Gunungkidul Wanda Abrar mengimbau masyarakat menjaga kebersihan diri dan lingkungan untuk menekan risiko penularan.

Warga diminta mencuci tangan dan kaki setelah beraktivitas di luar rumah, terutama jika bersentuhan dengan tanah atau air yang berpotensi tercemar. Luka terbuka juga perlu segera dibersihkan dan diobati serta dihindarkan dari paparan tanah maupun air yang terkontaminasi.

Selain itu, kebersihan lingkungan rumah dan tempat beraktivitas perlu dijaga. Pengendalian populasi tikus juga penting dilakukan karena hewan tersebut menjadi salah satu sumber penularan leptospirosis.(zik/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Leptispirosis jadi ancaman kemarau Dinkes gunungkidul risiko penularan