Merasa Tertinggal dari Teman Sebaya? Ingat, Hidup Bukanlah Perlombaan

Frencia Keliat • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 13:03 WIB
Anak muda yang membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di media sosial.

Sumber foto: AI Image
Anak muda yang membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di media sosial. Sumber foto: AI Image

YOGYAKARTA – Ada masa ketika membuka media sosial terasa seperti melihat daftar pencapaian orang lain. Ada yang baru lulus, mendapat pekerjaan, memulai bisnis, pergi ke tempat impian, menikah, atau berhasil membeli sesuatu yang selama ini diinginkan. Sementara itu, kita masih sibuk dengan urusan sendiri dan tanpa sadar mulai bertanya, “Kenapa aku belum sampai di sana?”

Perasaan tertinggal seperti ini semakin mudah muncul karena kita dapat melihat kehidupan orang lain hampir setiap saat. 

Dalam beberapa menit, layar ponsel bisa memperlihatkan puluhan cerita tentang keberhasilan orang lain. Penelitian mengenai perbandingan sosial di media sosial menunjukkan bahwa paparan terhadap perbandingan dengan orang yang dianggap lebih berhasil dapat berkaitan dengan harga diri yang lebih rendah.

Masalahnya, kita sering membandingkan kehidupan kita secara keseluruhan dengan potongan kehidupan orang lain. 

Kita tahu bagaimana sulitnya perjalanan sendiri, tetapi hanya melihat hasil akhir dari perjalanan orang lain. Foto kelulusan tidak memperlihatkan malam-malam ketika seseorang merasa ingin menyerah. Unggahan pekerjaan baru tidak selalu menunjukkan berapa banyak lamaran yang pernah ditolak sebelumnya.

Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Teman yang sudah menyelesaikan kuliah mungkin membuat kita merasa terlambat ketika masih mengerjakan tugas akhir. Seseorang yang sudah memiliki pekerjaan tetap bisa membuat kita mempertanyakan pilihan sendiri. Bahkan pencapaian sederhana orang lain terkadang membuat apa yang sudah kita lakukan terasa tidak berarti.

Padahal, setiap orang berjalan dengan kondisi yang berbeda. Ada yang mendapat kesempatan lebih cepat, ada yang harus berjuang lebih lama, dan ada pula yang harus berhenti sebentar sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Karena itu, membandingkan kecepatan hidup dengan orang lain sebenarnya tidak selalu memberikan gambaran yang adil.

Media sosial juga bukan satu-satunya penyebab seseorang merasa kurang. Kebiasaan membandingkan diri memang sudah ada jauh sebelum media sosial hadir. Namun, media sosial membuat proses tersebut menjadi lebih mudah karena kita terus-menerus mendapatkan informasi tentang kehidupan orang lain. Kajian terhadap penggunaan media sosial dan perbandingan sosial menunjukkan bahwa penggunaan pasif, seperti hanya melihat unggahan orang lain, dapat berkaitan dengan meningkatnya kecenderungan melakukan perbandingan sosial.

Ketika terlalu sering membandingkan diri, kita bisa lupa menghargai kemajuan kecil. Berhasil melewati semester yang berat, menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, berani mencoba sesuatu yang baru, membantu keluarga, atau sekadar mampu bertahan melewati masa sulit sebenarnya juga merupakan bagian dari perjalanan. Tidak semua pencapaian harus terlihat besar agar memiliki arti.

Bukan berarti melihat keberhasilan orang lain adalah sesuatu yang buruk. Pencapaian orang lain bisa menjadi inspirasi dan menunjukkan bahwa suatu tujuan mungkin dicapai. Yang perlu diperhatikan adalah ketika keberhasilan tersebut justru dijadikan ukuran untuk menentukan apakah diri sendiri sudah cukup baik atau belum.

Daripada terus bertanya, “Mengapa dia sudah sampai, sedangkan aku belum?”, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah, “Seberapa jauh aku sudah berjalan?” Pertanyaan tersebut membantu kita kembali melihat perjalanan sendiri tanpa menghapus keinginan untuk terus berkembang.

Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan dengan garis akhir yang sama. Ada orang yang menemukan jalannya lebih cepat, sementara orang lain membutuhkan waktu lebih panjang untuk menemukan arah yang tepat. Semua orang memiliki cerita, kesempatan, tantangan, dan waktunya masing-masing.

Jadi, ketika hari ini semua orang terlihat maju, jangan buru-buru menganggap diri sendiri tertinggal. Mungkin kita hanya terlalu sibuk melihat perjalanan orang lain sampai lupa bahwa diri sendiri juga sedang berjalan. Tidak harus secepat mereka, yang penting tetap bergerak dan tidak berhenti menghargai setiap langkah yang sudah dilewati. (Frencia Keliat)

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
perbandingan sosial motivasi diri anak muda kesehatan mental media sosial