Ingin Hidup Santai, tapi Dunia Menuntut Sukses: Ketika Gen Z Harus Terus Berlari Mengejar Masa Depan

Frencia Keliat • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 11:33 WIB
Seorang anak muda menggunakan laptop untuk menyelesaikan aktivitasnya, menggambarkan keseharian Gen Z yang terus berusaha mengejar pendidikan, karier, dan masa depan.

Sumber foto: https://share.google/aiOylphxSladE9iqt
Seorang anak muda menggunakan laptop untuk menyelesaikan aktivitasnya, menggambarkan keseharian Gen Z yang terus berusaha mengejar pendidikan, karier, dan masa depan. Sumber foto: https://share.google/aiOylphxSladE9iqt 

 YOGYAKARTA – Menjadi Gen Z di zaman sekarang seolah berada di antara dua keinginan yang bertolak belakang. Di satu sisi, ada keinginan untuk menjalani hidup dengan lebih tenang, menikmati waktu bersama orang terdekat, dan tidak terus-menerus merasa harus produktif. Namun di sisi lain, kehidupan seperti menuntut mereka untuk segera sukses, memiliki pekerjaan yang baik, mandiri secara finansial, dan mampu mengejar berbagai pencapaian.

Tekanan tersebut semakin terasa ketika media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat begitu dekat. Teman sebaya yang sudah bekerja, memiliki penghasilan, bepergian, membuka usaha, atau mencapai berbagai hal dapat muncul setiap hari di layar ponsel. Tanpa disadari, pencapaian orang lain terkadang menjadi ukuran untuk melihat perkembangan diri sendiri.

Bagi sebagian Gen Z, pertanyaan seperti “sudah sampai mana?” atau “setelah lulus mau kerja apa?” bukan lagi sekadar pertanyaan biasa. Ada kekhawatiran ketika usia bertambah tetapi kehidupan belum sesuai dengan rencana. Keinginan untuk menikmati masa muda akhirnya harus berjalan berdampingan dengan kecemasan mengenai masa depan.

Persoalan finansial juga menjadi bagian dari realita tersebut. Kehidupan mandiri membutuhkan biaya, sementara kebutuhan sehari-hari terus berjalan. Survei Gallup Voices of Gen Z yang diberitakan Kompas pada 2026 menunjukkan hampir separuh responden Gen Z mengkhawatirkan kondisi finansial dan kesejahteraan pribadi mereka. Bahkan, 50 persen responden menyebut pekerjaan ideal adalah pekerjaan yang memberikan penghasilan cukup tanpa menimbulkan stres berlebihan.

Di dunia kerja, keinginan untuk sukses ternyata tidak selalu berarti ingin bekerja tanpa batas.

Deloitte dalam survei Gen Z and Millennial 2025 mencatat generasi muda mencari keseimbangan antara uang, pekerjaan yang bermakna, dan kesejahteraan. 
Lebih dari 80 persen responden juga menyebut kondisi keuangan sehari-hari dan masa depan finansial sebagai faktor yang berkontribusi terhadap kecemasan atau stres.

Artinya, Gen Z tidak selalu ingin memilih antara ambisi dan ketenangan. Banyak yang justru menginginkan keduanya. 

Mereka ingin memiliki karier dan penghasilan yang baik, tetapi tetap mempunyai waktu untuk keluarga, pertemanan, hobi, serta kehidupan pribadi di luar pekerjaan.

Tuntutan untuk terus berkembang juga semakin besar karena perubahan dunia kerja berlangsung cepat. Teknologi dan kecerdasan buatan membuat keterampilan yang dibutuhkan perusahaan terus berubah. Kondisi tersebut mendorong anak muda untuk terus belajar dan beradaptasi agar tidak tertinggal dalam persaingan kerja.

Namun, terus berlari bukan berarti setiap orang harus mencapai garis akhir pada waktu yang sama. Ada Gen Z yang sedang menyelesaikan kuliah, mencari pekerjaan, membangun usaha, mengikuti magang, atau masih mencoba memahami apa yang sebenarnya ingin dilakukan. Perjalanan tersebut memiliki waktunya masing-masing.

Pada akhirnya, realita Gen Z bukan hanya tentang keinginan untuk sukses, tetapi juga tentang bagaimana menemukan kehidupan yang terasa cukup. Di tengah dunia yang bergerak cepat, mereka berusaha mencari cara untuk tetap mengejar masa depan tanpa kehilangan kesempatan menikmati hari ini. (Frencia Keliat)

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
anak muda Hidup Santai sukses masa depan Gen Z