JOGJA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja masih menemukan satu hingga dua kasus kusta setiap tahun, meski jumlahnya tergolong rendah dan menempatkan Kota Jogja sebagai wilayah endemis rendah. Edukasi dan deteksi dini terus diperkuat untuk mencegah penularan penyakit tersebut.
Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengatakan, temuan kasus kusta masih di bawah ambang batas yang ditentukan nasional yakni berkisar 0,55 hingga 0,63 kasus per 10.000 penduduk. Sehingga Jogja masuk kategori wilayah endemis rendah.
“Kasus kusta yang kami temukan setahun kadang 1-2 di masyarakat dengan latar belakang kurang kebersihan dan memiliki daya tahan tubuh lemah,” katanya, saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Kamis (24/9/2026).
Baca Juga: Ada Lima Tambang Ilegal, DPUPESDM DIY Klaim Telah Layangkan Surat Teguran: Akan Libatkan APH
Endang menjelaskan, berdasarkan hasil pendataannya kasus kusta banyak ditemukan di kalangan orang dewasa dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah. Serta memiliki kecenderungan abai terhadap kebersihan diri dan lingkungan tempat tinggal.
Menurutnya, penyakit kusta dapat diantisipasi dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Oleh karena itu, instansi ini terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan diri sendiri, serta menjaga kesehatan dengan rutin olahraga dan makan minum bergizi.
Meski pengobatan kusta dapat dilakukan. Endang mengingatkan sampai saat ini belum ada vaksin yang bisa menangkal penyakit kusta. Sehingga pencegahan dari diri sendiri penting dilakukan.
Baca Juga: Aji Yogyakarta Kecam Penghapusan Rekaman Wartawan oleh Anggota Polresta Sleman
Adapun penyakit kusta disebabkan oleh bakteri lepra yang menular dari percikan cairan saluran pernapasan (droplet) seperti dahak atau ludah saat penderita batuk atau bersin. Penularan memerlukan kontak erat dan berulang dalam waktu yang lama dengan penderita yang belum diobati.
“Kami terus mengedukasi dan sosialisasi ke masyarakat tentang penyakit kusta, termasuk menyebarluaskan infografis,” jelasnya.
Sebagai upaya mendeteksi penyebaran penyakit kusta, dinkes juga melakukan pengambilan sampel dari sejumlah sekolah. Pada tahun ini ada sekolah yang menjadi sasaran. Salah satunya di SDN Timuran, Kelurahan Brontokusuman, Kemantren Mergangsan.
Baca Juga: Warga Minta DPRD Sleman Tak Lepas Tangan atas Peristiwa Keracunan MBG Berulang
Wali Kelas 2B SDN Timuran Dwi Tuntari menyambut baik langkah antisipatif kusta. Menurutnya, deteksi dini sangat penting mengingat munculnya berbagai ancaman penyakit saat yang terus berkembang saat ini. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita