Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Dapat Picu Iritasi Kulit, Begini Cara Menanganinya

Fibrian Putri Heragung • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 19:58 WIB
Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Dapat Picu Iritasi Kulit, Begini Cara Menanganinya
Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Dapat Picu Iritasi Kulit, Begini Cara Menanganinya

 RADAR JOGJA - Abu vulkanik yang muncul akibat erupsi gunung berapi tidak hanya berpotensi mengganggu saluran pernapasan dan mata, tetapi juga dapat menimbulkan masalah pada kulit. Partikel abu yang menempel pada permukaan kulit dapat menyebabkan kulit kering, terasa perih atau seperti terbakar, gatal, hingga mengalami kemerahan.

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, Dr. Arini Astasari Widodo, SM, SpDVE, menjelaskan bahwa paparan abu vulkanik dalam waktu singkat umumnya tidak menimbulkan gangguan kulit yang serius. Namun, kondisi tersebut bisa berbeda pada orang yang memiliki kulit sensitif.

Menurut Arini, masyarakat yang mempunyai riwayat dermatitis atopik atau eksim, rosacea, maupun kondisi skin barrier yang sedang mengalami gangguan perlu lebih berhati-hati. Kulit juga menjadi lebih rentan mengalami iritasi setelah menjalani prosedur tertentu, seperti laser atau peeling.

Abu vulkanik memiliki karakteristik yang berbeda dengan debu biasa. Partikelnya berasal dari batuan dan mineral berukuran sangat halus sehingga sebagian dapat memiliki permukaan yang abrasif. Abu yang masih segar juga dapat mengandung komponen yang bersifat asam.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak menggosok kulit ketika abu masih dalam kondisi kering. Gesekan justru dapat membuat permukaan kulit semakin teriritasi.

Baca Juga: Kasus ISPA di Bandarlampung Meningkat, Dinkes Perkuat Pemantauan

Langkah pertama yang dapat dilakukan setelah terkena abu adalah segera membersihkan tubuh. Jika pakaian sudah dipenuhi abu, sebaiknya dilepas terlebih dahulu. Selanjutnya, bilas bagian kulit yang terpapar menggunakan air bersih mengalir agar abu dapat terangkat tanpa menimbulkan banyak gesekan.

Masyarakat juga disarankan mandi menggunakan air sejuk atau air hangat kuku dengan pembersih yang memiliki formula lembut. Penggunaan scrub, spons kasar, maupun menggosok kulit dengan kuat sebaiknya dihindari.

Setelah mandi, kulit cukup dikeringkan dengan cara menepuknya secara perlahan menggunakan handuk. Selanjutnya, gunakan pelembap untuk membantu menjaga kelembapan sekaligus memperkuat skin barrier.

Bagi mereka yang mengalami iritasi pada wajah, penggunaan sejumlah produk dengan bahan aktif yang berpotensi memperparah sensitivitas kulit juga sebaiknya dikurangi sementara. Produk seperti retinoid, AHA/BHA, peeling, dan scrub dapat dihentikan hingga kondisi kulit kembali membaik.

Baca Juga: Dampak Abu Vulkanik Ada Edaran Kemenkes, Faskes di Kebumen Ikut Siaga

Arini menekankan bahwa perlindungan secara fisik menjadi langkah utama dalam menghadapi paparan abu vulkanik. Masyarakat dapat menggunakan pelembap sederhana tanpa pewangi yang mendukung kesehatan skin barrier, misalnya produk dengan kandungan ceramide, glycerin, humektan, atau emolien.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak menggunakan antibiotik maupun kortikosteroid sebagai tindakan pencegahan tanpa anjuran dokter. Apabila setelah terpapar abu muncul dermatitis atau iritasi yang cukup parah, penggunaan obat antiinflamasi topikal sebaiknya dilakukan berdasarkan pemeriksaan tenaga medis.

Terkait erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda dan potensi penyebaran abu vulkanik, masyarakat diimbau tetap waspada tetapi tidak panik. Mengurangi kontak langsung dengan abu, terutama saat konsentrasi abu di udara tinggi, menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan.

Selain melindungi kulit, masyarakat juga perlu memperhatikan kesehatan mata dan saluran pernapasan karena kedua bagian tubuh tersebut juga dapat terdampak paparan abu vulkanik.

( FIBRIAN PUTRI HERAGUNG )

Sumber: Berbagi Sumber

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
Iritasi vulkanik Partikel abu kulit