Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mitos atau Fakta: Cabai, Buah Masam, hingga Garam untuk Sembuhkan Sariawan, Ampuh atau Justru Memperparah?

Magang Radar Jogja • Rabu, 18 Februari 2026 | 15:45 WIB

Ilustrasi sariawan.
Ilustrasi sariawan.

RADAR JOGJA - Sariawan merupakan luka kecil berbentuk bulat atau oval yang muncul di dalam mulut, biasanya di bagian dalam pipi, gusi, bibir bagian dalam, atau lidah.

Walaupun terlihat sepele, sariawan dapat menimbulkan rasa nyeri yang cukup tajam, terutama saat makan, minum, atau berbicara.

Banyak orang kemudian mencari cara cepat untuk mengatasinya, termasuk menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan di dapur seperti cabai, buah yang terasa masam (jeruk dan lemon), serta garam.

Sebagian percaya bahan-bahan tersebut bisa membantu mempercepat penyembuhan.

Namun, apakah benar demikian? Untuk menjawabnya, penting memahami bagaimana sariawan terbentuk dan bagaimana jaringan di dalam mulut bereaksi terhadap zat tertentu.

Melansir biologyinsights.com, secara medis sariawan adalah luka terbuka pada lapisan mukosa mulut.

Lapisan ini sebenarnya berfungsi sebagai pelindung jaringan di bawahnya. Ketika terjadi luka, lapisan pelindung tersebut rusak dan ujung-ujung saraf menjadi lebih terbuka.

Inilah alasan mengapa sariawan terasa sangat perih, bahkan saat terkena makanan biasa.

Dalam kondisi seperti ini, jaringan di sekitar luka menjadi sangat sensitif terhadap rangsangan kimia, mekanik, maupun suhu.

Artinya, zat yang terlalu asam, pedas, asin, atau terlalu panas dapat memperparah rasa nyeri dan mengganggu proses pemulihan alami tubuh.

Cabai sering dianggap sebagai bahan yang kuat dan mampu melawan kuman karena sensasi panasnya.

Namun, sensasi panas tersebut berasal dari zat bernama capsaicin.

Zat ini bekerja dengan merangsang reseptor rasa panas dan nyeri di dalam tubuh.

Ketika capsaicin mengenai luka terbuka seperti sariawan, sinyal nyeri yang dikirim ke otak menjadi lebih kuat.

Akibatnya, rasa perih meningkat dan area sekitar luka bisa menjadi lebih meradang.

Peradangan yang bertambah justru dapat memperlambat proses perbaikan jaringan.

Oleh karena itu, makanan pedas saat mengalami sariawan tidak membantu penyembuhan, bahkan cenderung memperburuk kondisi.

Selain cabai, buah-buahan yang terasa sangat masam seperti jeruk dan lemon juga sering disalahpahami.

Banyak orang mengaitkan kandungan vitamin C dengan proses penyembuhan luka, sehingga muncul anggapan bahwa buah asam dapat mempercepat hilangnya sariawan.

Memang benar bahwa vitamin C penting untuk kesehatan jaringan dan daya tahan tubuh.

Namun, dalam kondisi sariawan aktif, kandungan asam sitrat dalam buah-buahan tersebut dapat mengiritasi luka secara langsung.

Tingkat keasaman yang rendah (pH yang asam) dapat mengikis lapisan jaringan di sekitar luka dan membuat ujung saraf semakin terbuka.

Rasa perih pun menjadi lebih intens.

Selain itu, lingkungan yang terlalu asam dapat menghambat proses regenerasi sel yang sedang bekerja memperbaiki jaringan yang rusak.

Garam juga sering digunakan sebagai obat rumahan, misalnya dengan cara berkumur air garam.

Secara teori, air garam dapat membantu menjaga kebersihan mulut.

Namun, perlu dibedakan antara penggunaan larutan garam encer untuk berkumur dan paparan garam secara langsung dalam jumlah tinggi, terutama dari makanan yang sangat asin.

Makanan tinggi garam dapat menarik cairan dari jaringan di sekitar luka melalui proses osmosis.

Akibatnya, area sariawan terasa lebih kering dan sensitif.

Sensasi perih bisa meningkat, dan jaringan yang sedang berusaha pulih menjadi lebih teriritasi.

Konsumsi makanan yang terlalu asin selama sariawan masih ada sebaiknya dibatasi agar tidak memperparah rasa tidak nyaman.

Tidak hanya rasa pedas, asam, dan asin, suhu makanan juga berpengaruh.

Makanan atau minuman yang terlalu panas dapat menyebabkan iritasi tambahan pada jaringan yang sudah sensitif.

Suhu tinggi dapat merusak sel-sel di sekitar luka, mirip dengan luka bakar ringan.

Hal ini akan meningkatkan peradangan dan memperpanjang masa penyembuhan.

Oleh karena itu, selama mengalami sariawan, dianjurkan untuk mengonsumsi makanan dengan suhu hangat atau suhu ruang agar tidak menambah beban pada jaringan yang sedang pulih.

Selain faktor kimia dan suhu, tekstur makanan juga memegang peran penting.

Makanan yang keras, tajam, atau bertekstur kasar seperti keripik, kacang, roti kering, atau sayuran mentah dengan serat keras dapat menggesek dan melukai kembali permukaan sariawan.

Gesekan ini dapat memperbesar luka atau bahkan menyebabkan perdarahan ringan.

Trauma mekanik seperti ini jelas menghambat penyembuhan.

Maka dari itu, memilih makanan yang lembut dan mudah dikunyah merupakan langkah yang lebih aman selama masa pemulihan.

Cabai, buah yang sangat masam seperti jeruk dan lemon, serta makanan tinggi garam bukanlah bahan yang menyembuhkan sariawan.

Justru, dalam banyak kasus, ketiganya memperparah rasa nyeri dan memperlambat proses penyembuhan karena menimbulkan iritasi tambahan pada jaringan yang sudah rusak.

Pendekatan yang lebih tepat adalah menghindari makanan yang bersifat iritatif, menjaga kebersihan mulut, serta memberi waktu bagi tubuh untuk melakukan proses penyembuhan secara alami.

Dengan perawatan yang tepat dan pola makan yang lebih lembut, sariawan umumnya sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari hingga satu minggu. (Alya Ruhadatul Nabilah Aisy)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#mitos atau fakta #ampuh #sariawan #masam #ph