JOGJA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjalin kerjasama dengan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dalam meningkatkan pelayanan kesehatan paru bagi masyarakat.
Banyaknya kasus Tuberkulosis (TB) di Indonesia dan DIY menjadi perhatian penting untuk melakukan pemeriksaan awal hingga pengobatan.
"Temuan pada tahun 2023 terdapat 6.915 kasus (TBC, Red) di DIY, tahun 2024 semakin banyak lagi hampir 7 ribu kasus," ujar Kepala Dinas Kesehatan DIY Pembajun Setyaningastutie saat ditemui dalam acara Pertemuan Imiah Khusus (PIK) PDPI di Hotel Tentrem Jogja, Jumat (5/9/2025).
Menurutnya, salah satu faktor munculnya penyakit TB berasal dari kebersihan lingkungan dan perilaku masyarakat.
Rumah ataupun tempat-tempat kumuh menjadi pemicu muncuknya penyakit tersebut.
"Terus kebiasaan merokok itu juga salah satu faktor," ucapnya.
Kerjasama yang dilakukan antara Pemprov DIY dengan PDPI akan difokuskan melalui gerakan edukasi kepada masyarakat.
Menurutnya, edukasi tersebut akan lebih efektif melalui kerjasama dengan kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang dimiliki Pemprov DIY hingga sampai tingkat pemerintahan paling bawah yakni desa/kalurahan.
"Menyadarkan bahwa penyakit ini bisa dikurangi sepanjang kita semua sadar bahwa ini untuk kepentingan bersama," katanya.
Dari data yang ia dapat, Indonesia termasuk tinggi angka penderita TB, yakni peringkat dua di dunia.
Pengobatan penyakit paru juga tidak bisa dilakukan dengan instan.
Melalui sosialisasi dan melakukan pemeriksaan dini, diharapkan para penderita bisa mendapatkan pengobatan secara efektif.
"Jangan sampai ditemukan terus hilang, tapi ditemukan, diobati, dijaga sampai sembuh," tandasnya.
Beberapa gejala dini penyakit TB diantaranaya penderita mengalami batuk lebih dari dua minggu.
Kemudian terjadi penurunan berat badan dan demam tanpa penyebab yang jelas.
Namun, ia menekankan kepada penderita dan masayrakat untuk tidak panik dan berkecil hati karena penyakit tersebut bisa disembuhkan.
"Stigma penderita TB jangan lalu dijauhi, justru dirangkul untuk diobati. Karena kalau nggak, dia akan kemana-mana. Dikucilkan jadi tidak punya motivasi untuk sembuh," paparnya.
Ketua PDPI pusat dr Arief Riadi Arifin menyampaikan kerjasma yang dilakukan dengan Pemprov DIY bersifat tentang layanan publik.
Terutama layanan kesehatan di masyarakat.
Jadi, tentang edukasi baik mengobati, menghindarimaupun menyampaikan pola hidup sehat.
"Contohnya senam asma, bagaimana men-tracing pasien TB, seperti itu. Jadi PDPI mendampingi masyarakat," ujarnya.
Kerjasama tersebtut juga sebagai upaya meningkatkan kemampuan profesi dokter khusus penyakit paru-paru.
Penyakit TB menurutnya bisa diobati dengan rata-rata penyembuhan intensif selama enam bulan.
"Jadi jangan sampai muncul stigma orang takut lalu ndak mau dateng periksa," bebernya.
6 bulan fase pengobatan itu terdiri dari fase intensif 2 bulan dan fase lanjut itu selama 4 bulan. Setiap fase akan dilakukan evaluasi. (oso)
Editor : Meitika Candra Lantiva