Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Wali Kota Magelang Minta Masyarakat Pantau Bumil dan Anak Stunting di Wilayahnya 

Naila Nihayah • Rabu, 30 Juli 2025 | 11:40 WIB
Wali Kota Magelang Minta Masyarakat Pantau Bumil dan Anak Stunting di Wilayahnya 
Wali Kota Magelang Minta Masyarakat Pantau Bumil dan Anak Stunting di Wilayahnya 

 

 

MAGELANG — Pemerintah Kota Magelang menargetkan penurunan angka stunting secara signifikan hingga berada di kisaran 10—12 persen pada tahun ini. Berdasarkan data, masih ada sekitar 512 anak stunting dan potensi stunting. 

 

"Kenapa kami komitmen menekan angka stunting? Karena anak-anak adalah embrio kehidupan," ujar Wali Kota Magelang Damar Prasetyono di Pendopo eks Balai Diklat Kepemimpinan Kota Magelang, Selasa (29/7).

 

Dia menyebut, prevalensi stunting di Kota Magelang masih berada di angka 15,4 persen. Meski lebih rendah dari rata-rata provinsi dan nasional, yang masing-masing berada di atas 18 persen, tapi dia menilai angka itu tetap mengkhawatirkan karena luas wilayah Kota Magelang yang kecil, sehingga jumlah kasus terasa mencolok.

Saat ini, kata dia, tercatat ada 512 anak di Kota Magelang mengalami stunting atau berisiko stunting. Mereka akan dibagi berdasarkan wilayah untuk kemudian ditangani secara spesifik oleh puskesmas dan posyandu. Pendataan yang lebih detail dilakukan terhadap balita, ibu menyusui (busui), dan ibu hamil (bumil) sebagai kelompok sasaran utama.

 

Dia juga meminta masyarakat aktif melaporkan keberadaan bumil maupun anak-anak yang berpotensi stunting agar bisa segera dipantau dan dibantu. Damar pun mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat untuk merencanakan kehamilan dengan matang. "Pastikan kondisi ibu sehat, lingkungan bersih, dan ada kesiapan fisik maupun mental," imbuhnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Magelang Istikomah menekankan, pencegahan tetap menjadi strategi utama. Namun, untuk kasus yang sudah terjadi, dinkes melakukan intervensi konvergensi, yaitu pendekatan lintas sektor yang mencakup gizi, kesehatan, lingkungan, hingga edukasi.

 

Sebab, kata dia, tidak semua anak stunting sama penyebabnya. Ada yang karena gizi buruk, penyakit kronis, sanitasi buruk, atau faktor lain. "Karena itu kami lakukan asesmen terlebih dahulu untuk menentukan jenis intervensinya," jelas Istikomah. (aya/pra)

Editor : Heru Pratomo
#Magelang #dAMAR PRASETYONO #Stunting #wali kota #bumil