RADAR JOGJA - Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terus hadir bagi masyarakat Indonesia lewat layanan kesehatan yang optimal.
Salah satu yang merasakan manfaatnya adalah keluarga Sri Suyanti.
Perempuan asal Kabupaten Sleman tersebut menjelaskan suaminya yang bernama Sumadi mengalami kejadian tidak terduga.
Laki-laki berusia 55 tahun tersebut terpeleset saat memanjat genting pada Senin (9/6/2025) lalu.
Peristiwa itu menyebabkan luka di bagian wajah dan kaki suaminya mengalami patah tulang.
"Sempat bingung mau kemana. Beruntung ada rumah sakit dekat rumah," katanya saat ditemui Rumah Sakit Universitas Ahmad Dahlan (RS UAD), Karangsari, Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Jumat (13/6/2025).
Sri menyebutkan muka suaminya harus menerima enam jahitan.
Sementara kakinya mengalami patah di dua jari dan harus dioperasi.
"Kami masuk dan ngurus administrasi menggunakan jaminan dari BPJS Kesehatan lalu langsung ditangani. Sore dijadwalkan operasinya. Tidak ada kata menunda-nunda," katanya.
Perempuan 46 tahun tersebut bersyukur lantaran proses penanganan yang cepat.
Program pemerintah ini dia nilai sangat meringankan musibah yang dialami.
Ibu dua anak ini mengaku sempat ragu-ragu untuk mendaftar jadi peserta JKN.
Saat itu dia menilai saat sakit bisa menggunakan uang pribadi lantaran memiliki penghasilan.
Namun, pemikiran itu berubah karena Sri menyadari penyakit bisa datang kapan pun tanpa diprediksi.
Hingga akhirnya dia mendaftarkan diri bersama dua anak dan suaminya jadi peserta JKN dengan segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau peserta mandiri.
"Saya bikin sudah cukup lama. Alhamdulillah ketika kejadian ini sudah terdaftar sebagai peserta JKN," kata Sri.
Menurutnya, iuran yang dikenakan setiap sebulan sekali biayanya cukup ringan.
Terlebih, keluarganya memilih mendaftar masuk ke kelas tiga.
Fasilitas kesehatan yang didapatkan juga dia nilai memuaskan.
"Perawatnya sangat ramah dan untuk tempatnya bersih. Layanan yang diberikan tidak ada perbedaan," katanya.
Dia juga menyoroti kamar yang dilengkapi dengan pendingin ruangan.
Hal ini dia pikir tidak akan ada karena mengingat suaminya tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun untuk perawatan.
"Ketika masuk kamarnya kaget ada AC. Suami bilang merasa nyaman dan bisa tidur nyenyak," katanya.
Tidak ada perbedaan antara peserta JKN maupun peserta umum.
Baik terkait layanan dokter maupun obat yang diberikan.
Hal tersebut membuat Sri merasa jauh lebih tenang.
"Menu makanan yang diberikan juga cukup. Suami saya makannya habis," tambahnya.
Harapannya dengan fasilitas yang ada bisa menunjang kesembuhan suaminya.
Sehingga seluruh proses pengobatan bisa lancar dan suaminya bisa kembali beraktivitas seperti semula.
Pengalaman yang dia rasakan ini membuatnya bersyukur bisa menjadi peserta JKN.
Dia juga turut mengajak masyarakat yang masih ragu-ragu untuk ikut mendaftarkan diri jadi peserta.
"Alangkah baiknya kalau dari pemerintah desa juga melakukan jemput bola ke rumah-rumah warga," tambahnya.
Ibu dua anak ini menilai hal tersebut merupakan upaya penting lantaran terkadang banyak keluarga belum memahami pentingnya memiliki jaminan kesehatan.
Sehingga, bisa diberikan edukasi dan pendampingan.
Hal tersebut termasuk dalam mengenalkan mengenai adanya Aplikasi Mobile JKN.
Dia menyebutkan aplikasi ini memiliki banyak fitur yang bisa memudahkan peserta mendapat pelayanan kesehatan.
Di sisi lain, apabila ditemukan masyarakat yang tidak mampu bisa diikutsertakan dalam peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI).
Sehingga, semua elemen masyarakat bisa terjamin kesehatannya.
"Program JKN memang sangat membantu saat sulit. Saya dan keluarga sendiri sudah membuktikan," tandasnya.