JOGJA - Lebaran jadi momen yang ditunggu banyak orang setelah ibadah puasa. Pada kesempatan itu, kita akan berjumpa dengan keluarga besar dan kembali mempererat tali silaturahmi. Namun di tengah suasana hangat itu, kadang muncul pertanyaan basa-basi yang dianggap sebagai bentuk kepedulian, tetapi justru menimbulkan ketidaknyamanan.
Psikolog Career and Student Development Unit (CSDU) FEB UGM Anisa Yuliandri berujar, beberapa pertanyaan seperti pencapaian pendidikan atau karir, kehidupan pribadi hingga perubahan fisik, seringkali jadi bahan perbincangan yang tidak dapat dihindarkan.
"Bagi sebagian orang, pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terasa wajar. Namun, bagi yang lain, hal itu bisa menambah beban pikiran," katanya, Selasa (25/3).
Anisa menerangkan, stres merupakan respons otomatis terhadap suatu situasi dan bergantung pada bagaimana individu menilai peristiwa tersebut sebagai ancaman, tekanan, atau sesuatu yang netral. "Jika kita menganggap pertanyaan basa-basi itu bentuk tekanan, maka tubuh dan pikiran akan bereaksi dengan stres," paparnya.
Menurutnya, sangat penting untuk mengubah cara pandang terhadap pertanyaan basa-basi yang diajukan. Agar bisa menjadi langkah awal untuk menghadapinya dengan lebih santai.
Anisa menyampaikan, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Qudsy tahun 2020, menunjukkan bahwa tekanan sosial berdampak secara signifikan pada kesehatan mental. Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan ini dapat memicu kecemasan, stress, hingga menurunkan rasa percaya diri. "Namun, jika disikapi secara positif, tekanan sosial justru bisa menjadi motivasi untuk berkembang," ulasnya.
Anisa berpesan, salah satu cara untuk menghadapi ragam pertanyaan tersebut adalah dengan berkomunikasi secara asertif. Yaitu menyampaikan suatu hak tanpa menyinggung orang lain. Selain itu, menanggapi dengan santai dan humor dapat menjadi solusi agar obrolan tetap ringan dan nyaman. "Jika mulai merasa tidak nyaman, coba alihkan ke topik lain. Paling penting jangan terlalu dipikirkan. Jika mulai terganggu, coba untuk tarik nafas dan tenangkan diri," lontarnya.
Dia merekomendasikan salah satu hal yang bisa dilakukan adalah bersikap jujur dan terbuka, hal tersebut diperlukan untuk membuat kita lebih nyaman. Anisa juga mengingatkan untuk tetap menghadapi pembicaraan dengan santai tanpa terbawa perasaan. Jangan biarkan perkataan orang lain membuat diri merasa tidak cukup baik.
Sebab, biasanya orang lain menyampaikan pertanyaan hanya sekedar basa-basi tanpa memiliki maksud tertentu. "Ingat, setiap orang memiliki perjalanan hidupnya sendiri. Tidak ada yang perlu dikejar hanya karena ekspektasi sosial," pesannya.
Salah satu orang yang merasa cukup khawatir menghadapi pertanyaan-pertanyaan di lebaran Muh. Ihsanudin. Mahasiswi ilmu komunikasi UMY tersebut mengaku cukup terbebani, karena belum menyelesaikan kuliahnya. "Karena telat lulus, jadi agak males kalau nanti di tanya-tanya soal kuliah pas lebaran," bebernya.
Untuk mensiasati hal tersebut, Ihsan mengaku akan bersikap seperlunya saja, dan tidak berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. "Paling jujur saja. Sedang berproses, dan minta didoakan agar segera lulus," ujar laki-laki asal Bekasi ini. (iza/pra)
Editor : Heru Pratomo