KEBUMEN - Program Makan Bergizi Gratis alias MBG dipercaya banyak membawa manfaat. Selain dapat menekan angka malnutrisi serta stunting, program ini juga akan memberikan pemahaman dan kesadaran tentang pentingnya kualitas asupan gizi bagi siswa.
Hal ini ditegaskan Kabid Pendidikan SMP pada Dinas Disdikpora Kebumen Martiyono, Rabu (19/2). Menurut dia, program prioritas nasional ini menjadi ajang atau momentum mengenalkan literasi makanan bergizi. "Siswa akan paham, makanan yang baik dan bergizi itu seperti apa," katanya.
Martiyono mengatakan, terlepas dari pro kontra, program MBG dianggap sebuah terobosan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh siswa. Dia menyebut, ada sejumlah target yang diharapkan dari pelaksanaan program MBG. Mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui penguatan gizi bagi anak sekolah.
Kemudian, orientasi kesejahteraan melalui pemberdayaan pelaku usaha dan ekonomi kerakyatan. Lalu, meningkatkan pemahaman literasi terkait makanan bergizi. Ujungnya pembentukan karakter terhadap siswa atau pelajar. "Program ini banyak dimensi. Saya pikir banyak aspek yang tersentuh," ujarnya.
Martiyono menyebut, jika terpenuhi sepenuhnya, program MBG di Kebumen akan menyasar sekitar 178 ribu siswa dari PAUD, SD dan SMP. Belum lagi ditambah siswa dibawah naungan Kementerian Agama dari tingkat RA, MI, MTs dan MA.
Baca Juga: Mengenal Ritual Pemanggil Hujan hingga Sosok Seniman Eksentrik di Balik Tradisi Cowongan Banyumas
"Bicara total itu 200 ribu lebih siswa. Termasuk untuk siswa yang jadi kewenangan Pemprov," ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinkes PPKB Iwan Danardono mengatakan, program MBG selaras dengan cita-cita Indonesia Emas di tahun 2025. Proses menuju ke sana, menurutnya perlu disiapkan SSM yang unggul dan sehat. Salah satu caranya dengan memastikan ketercukupan gizi yang baik dan memadai. "Kalau anaknya tidak disiapkan dari sekarang Indonesia jadi penonton. Indonesia ini harus jadi pemain utama, bukan pengganti," urainya.
Terkait pelaksanaan MBG, pihaknya juga akan terjun langsung untuk memastikan standar gizi dari makanan yang akan diberikan ke siswa. Selain itu Dinkes PPKB juga hadir untuk mengurusi bidang keamanan pangan. "Di dapur itu sudah ada ahli gizi, kami tetap koordinasi. Bagaimana proses masak, packing dan penyajian," pungkas Iwan. (fid)
Editor : Heru Pratomo