RADAR JOGJA - Dalam upaya menurunkan berat badan (weight loss) agar lebih percaya diri, banyak informasi tentang diet yang efektif dan cepat.
Sayangnya, tidak semua informasi tersebut akurat dan tepat untuk dilakukan.
Hasilnya, mitos seputar diet yang dapat menyesatkan dan bisa berpotensi merugikan kesehatan.
Berikut adalah beberapa fakta dan mitos umum seputar diet:
- Jangan makan malam supaya berat badan turun
Tidak ada bukti yang menyatakan kalau makan malam dapat meningkatkan berat badan. Namun, kalau ingin makan di malam hari, batasi jumlahnya dan hindari makanan yang tinggi kalori. Hal ini guna mengurangi risiko terjadinya gangguan pencernaan dan nyeri ulu hati.
- Minum Kopi Bisa Menurunkan Berat Badan
Hal ini adalah fakta. Kopi adalah minuman yang mengandung kafein dan dapat meningkatkan metabolisme dalam tubuh. Dengan meningkatnya metabolisme, seseorang akan lebih mudah untuk menurunkan berat badan dan mengurangi lemak tubuh.
Dalam menjalani program diet, disarankan mengonsumsi kopi hitam tanpa tambahan gula. Akan tetapi, jika memiliki gangguan lambung atau gangguan irama jantung, hindari konsumsi kopi secara berlebih.
- Jangan sarapan supaya berat badan turun
Ini merupakan informasi yang keliru. Sarapan justru merupakan bagian penting dari diet yang sehat. Jika kamu tidak sarapan, bisa memicu rasa lapar yang berlebihan dan makan tidak terkontrol di siang hari.
- Mengunyah Lebih Lama Membuat Lebih Cepat Kenyang
Hal ini adalah fakta. Seseorang yang menjalani program diet sebaiknya mengunyah makanan sebanyak 30–40 kali sebelum menelan. Ketika seseorang mengunyah makanan lebih lama, otak akan mengirimkan sinyal ke tubuh bahwa makanan yang dikonsumsi sudah cukup sehingga dapat merasa lebih cepat kenyang.
- Tidak Boleh Makan Nasi saat Program Diet
Hal ini adalah mitos. Meskipun sebagian orang yang sedang menjalani program diet menganggap nasi sebagai faktor utama dalam kenaikan berat badan, hal tersebut tidaklah benar.
Pada dasarnya, semua manusia membutuhkan makronutrien, yang salah satunya adalah karbohidrat. Kebutuhan karbohidrat per hari adalah sekitar 50–60%. Asupan karbohidrat yang cukup dapat membuat fungsi organ vital, seperti otak, jantung, dan sel darah merah tetap berfungsi dengan baik. Seseorang yang kekurangan karbohidrat dapat mengalami gangguan fokus.
- Karbohidrat membuat tubuh gemuk
Mitos ini tidak sepenuhnya benar. Jika dikonsumsi dalam porsi yang tepat, karbohidrat tidak akan memicu peningkatan berat badan, kok. Selain jumlahnya, kamu juga perlu lebih bijak dalam memilih jenis karbohidrat.
Pilihlah jenis karbohidrat kompleks, seperti beras merah, buah-buahan, kacang-kacangan, atau biji-bijian.
- Menahan Lapar dapat Menurunkan Berat Badan
Hal ini adalah mitos. Diet harus dilakukan dengan tetap memperhatikan pola makan dan nutrisi. Menahan lapar akan memicu organ-organ tubuh tidak bisa bekerja dengan optimal dan dapat menimbulkan keluhan kesehatan. Karena itu, carilah metode diet yang nyaman dilakukan untuk menghindari gangguan kesehatan.
- Jangan Makan Malam Kalau Ingin Berat Badan Turun
Hal ini sebenarnya tergantung pada penerapannya. Pada prinsipnya, diet akan berhasil saat terjadi defisit kalori. Apabila tidak makan malam namun mengonsumsi makanan berlebih saat pagi sampai sore hari, berat badan tetap saja tidak turun.
Untuk mengatasinya, disarankan untuk makan malam terakhir 3–4 jam sebelum tidur. Pasalnya, mengonsumsi makanan dekat dengan waktu tidur akan mengganggu proses penyerapan nutrisi. Bahkan, saat bangun tidur esok harinya, perut mungkin akan terasa tidak nyaman, seperti timbulnya rasa nyeri di area ulu hati.
- Diet Bebas Makan Apa pun, yang Penting Olahraga
Hal ini adalah mitos. Sebuah kiasan mengungkapkan bahwa “nutrition is a king, and exercise is a queen”. Pada dasarnya, pola diet dan olahraga tidak bisa dipisahkan, karena kedua hal tersebut saling melengkapi. Ketika sedang menjalani program weight loss, tidak hanya olahraga yang perlu dilakukan, tetapi pola makan juga perlu dijaga.
- Gemuk itu Genetik
Hal ini adalah mitos. Faktor genetik memang berpengaruh terhadap berat badan, namun hanya sekitar 20–30% saja. Sisa 70%–80% akan dipengaruhi oleh gaya hidup atau lifestyle yang dijalani sehari-hari individu.
Editor : Bahana.